Senin, 11 Juni 2012

Museum Merapi


Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang terletak di jalur pertemuan lempengan bumi sehingga menjadi negara yang rawan gempa. Selain itu, Indonesia juga berada di kawasan cincin api yang memiliki 500 gunung berapi di mana terdapat 129 gunung berstatus aktif. Jumlah itu mencakup 13 persen dari total gunung api aktif di dunia. Hal itu tentu saja kembali menegaskan bahwa Indonesia terletak di daerah rawan bencana. Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya mitigasi untuk menekan jumlah korban jiwa ketika bencana melanda.
Museum Gunung Merapi sebagai sebuah wahana wisata baru yang dibangun di kawasan lereng selatan Merapi hadir untuk menjawab hal tersebut. Obyek wisata yang dirancang sebagai wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya ini diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro.
Museum yang memiliki semboyan Merapi Jendela Bumi” ini menempati lahan seluas 3,4 hektar dengan luas bangunan 4.470 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama berisikan benda-benda koleksi museum yang dibagi dalam ruangan-ruangan dengan tema Volcano World, On The Merapi Volcano Trail, Manusia dan Gunung Api, Bencana Gempa Bumi dan Tsunami, Bencana Gerakan Tanah, Diorama, Peralatan Survey, Extra-terestrial Volcano, dan fasilitas penunjang lainnya. Sedangkan lantai dua digunakan sebagai gedung pemutaran film tentang Gunung Merapi, yang saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Sejarah Pembangunan
      Gunung Merapi adalah salah satu gunung api yang memiliki nilai sosial tersendiri di mata masyarakat sekitar. Terlebih lagi gunung ini juga menjadi sebuah simbol bagi Keraton Yogyakarta. Dikatakan bahwa antara Gunung Merapi, Tugu Yogya Kembali, Keraton Kasepuhan Yogyakarta, dan istana Ratu Kidul berada pada satu garis imajiner yang lurus.
          Selain dikeramatkan oleh penduduk sekitar, Merapi termasuk golongan gunung yang paling aktif di dunia, yakni mengalami erupsi setiap 4 tahun sekali. Terakhir mengalami erupsi adalah tahun 2010, dimana dampak letusannya sangat besar dan juru-kunci Gunung Merapi menadi korban erupsi tersebut. Hal ini menjadi daya tarik bagi ilmuwan (peneliti) dan masyarakat untuk mengetahui lebih dalam tentang Gunung Merapi.
          Hal inilah yang mendasari Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral RI untuk membangun sebuah museum yang dapat digunakan untuk kegiatan penelitian dan wisata edukasi. Untuk merealisasikan pembangunannya, dilakukan kerasama dengan Direktorat jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Pemprov D.I. Yogyakarta, dan Pemkab Sleman. Sebagai pelaksana pembangunan adalah Dirjen Geologi dan Sumberdaya Mineral yang proses perencanaan dan perancangannya berkonsultasi dengan pihak Keraton Yogyakarta.
          Pembangunan Musuem Gunung Merapi (MGM) dimulai dengan peletakan batu pertama pada tahun 2005 dan baru selesai tahun 2009. Peresmian dan pembukaan untuk umum dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2009. Saat itu, pengunjung tidak dikenai tiket masuk, tetapi setelah tanggal 3 januari 2010, pengunjung dikenai tiket masuk sebesar Rp 3000,- per orang.

 Keistimewaan
          Suhu yang sejuk bahkan cenderung dingin akan menyambut saat Anda melangkahkan kaki dari tempat parkir menuju pelataran museum. Jika cuaca sedang cerah, puncak Merapi yang kokoh dan rimbunnya pepohonan akan terlihat sebagai latar belakang bangunan museum. Menaiki satu persatu anak tangga yang ada di pelataran museum akan mengingatkan Anda pada pintu gerbang utama kompleks Candi Ratu Boko. Hal ini tidaklah berlebihan, karena konsep pembangunan Museum Gunung Merapi lekat dengan nilai-nilai filosofis Jawa. Arsitektur museum sendiri merupakan representasi dari bentuk candi (pintu utama dan pelataran), tugu Jogja (puncak bangunan), Gunung Merapi (bangunan keseluruhan), serta konsep keraton sebagai citra dunia (denah bangunan yang sentripetal).
          Memasuki pintu utama, Anda akan disambut dengan maket Gunung Merapi berukuran besar yang terus menerus mengeluarkan asap dan memuntahkan magma. Tak ketinggalan pula terdengar bunyi gemuruh yang menggelegar dari gunung tersebut. Jika Anda ingin mengetahui tentang kronologis meletusnya Gunung Merapi, Anda dapat memencet tombol narasi yang ada di samping maket tersebut. Tak berapa lama akan terdengar suara narator dengan backsound musik Jawa menceritakan kisah meletusnya Gunung Merapi. Selain itu, terdapat tiga tombol yang masing-masing bertuliskan tahun 1969, 1994, dan 2006. Jika Anda memencet salah satu tombol tersebut, maka sebaran aliran magma akan berubah sesuai dengan kejadian yang terjadi pada tahun tersebut.
          Selanjutnya Anda akan memasuki zona dunia gunung api. Di zona ini terdapat berbagai foto dokumentasi dan alat peraga tentang fenomena kegunungapian yang ada di seluruh dunia. Foto-foto dan alat peraga tersebut disajikan lengkap dengan keterangan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadi, meskipun Anda datang sendirian tanpa pemandu, dijamin Anda pasti akan paham dengan semua gambar-gambar tersebut.
          Setelah puas menikmati zona dunia gunung api, Anda dapat meneruskan langkah menuju zona khusus Gunung Merapi. Semua informasi tentang Gunung Merapi disajikan di ruangan tersebut. Mulai dari fenomena pertumbuhan kubah Gunung Merapi, mitos seputar Gunung Merapi, pos pengamatan Gunung Merapi dari era Belanda hingga era modern, dan masih banyak lagi. Semua disajikan dalam gambar dan foto yang menarik. Tak hanya itu, di zona tersebut juga ditunjukkan bagaimana caranya menyelamatkan diri dari ancaman bahaya gunung api yang meletus. Oleh karena itu, tampaknya cukup wajar dan tidak berlebihan jika Museum Gunung Merapi juga dijadikan sebagai wahana pendidikan mitigasi untuk menekan jumlah korban jiwa.
          Di salah satu ruangan Museum Gunung Merapi terdapat koleksi alat-alat yang biasa digunakan dalam proses pemantauan aktivitas gunung berapi. Selain itu, juga ada berbagai macam batuan yang dibawa oleh letusan Merapi, salah satunya adalah batu bom (vulcanic bomb) Gunung Merapi yang berbentuk batuan pijar berdiameter 65 mm lebih. Koleksi lainnya adalah peralatan masak warga yang rusak terkena erupsi, serta kerangka sepeda motor milik warga yang tewas di bungker Kaliadem pada 14 Juni 2006.
          Sebagai sebuah museum yang dirancang untuk menjadi pusat informasi, penelitian, pendidikan dan wisata tentang kegunungapian di seluruh dunia secara umum dan Gunung Merapi secara khusus, Museum Gunung Merapi layak untuk dikunjungi. Para pelajar dari berbagai jenjang pendidikan sangat disarankan untuk mengunjungi museum ini, dikarenakan akan ada begitu banyak informasi yang disajikan oleh Museum Gunung Merapi lengkap dengan visualisasinya. Sehingga, proses pembelajaran tentang kegunungapian menjadi sesuatu yang menarik dan tidak membosan.

Lokasi
Museum Gunung Merapi (MGM) berada di jalan Kaliurang KM 22, Banteng, Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Propinsi D.I. Yogyakarta. Lokasinya berada di perbukitan yang dikelilingi ngarai sehingga aman dari aliran lava karena aliran lava akan dibelokkan melalui ngarai yang ada di sekitarnya.
Untuk mencapai lokasi MGM, pengunjung dapat melalui jalan ke arah Kaliurang. Setelah melalui SPBU kedua, di kanan jalan terdapat papan petunjuk arah yang memudahkan pengunjung menuju Museum Gunung Merapi. jika masih bingung dengan arah, pengunjung dapat bertanya pada penduduk setempat ataupun pada petugas SPBU yang pasti akan dijawab dengan ramah dan jelas.

Akses
Akses menuju Museum Gunung Api Merapi terbilang cukup mudah, hal ini dikarenakan Museum Gunung Merapi terletak satu jalur dengan kawasan wisata Kaliurang. Dari arah Yogyakarta, silakan Anda menyusuri Jalan Kaliurang. Kurang lebih 20 km perjalanan, Anda berbelok ke arah kiri, dan ikuti jalan menuju obyek wisata Kaliurang dari pintu masuk sebelah barat (Jalan Boyong). Tak berapa lama Anda akan menemukan gerbang masuk kawasan wisata Kaliurang. Silakan Anda belok kanan, Museum Gunung Merapi terletak persis di ujung jalan tersebut.
Wisatawan yang ingin berkunjung ke Museum Gunung Merapi disarankan membawa kendaran pribadi baik mobil maupun motor. Hal ini dikarenakan tidak adanya angkutan umum yang melintasi museum ini, sehingga Anda harus berjalan kaki sekitar 2 km dari Jalan Kaliurang. Namun, jika Anda tetap ingin menggunakan angkutan umum, Anda dapat naik mikromini jurusan Jogja-Kaliurang. Setelah sampai di depan gedung Oasis Crisis Center, silakan Anda turun kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Boyong.

Tiket Masuk
Wisatawan yang ingin memasuki Museum Gunung Api Merapi diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000,00. Selain itu, wisatawan yang membawa sepeda motor akan dikenai biaya parkir sebesar Rp 1.500,00, mobil Rp 2.000,00, sedangkan bus Rp 10.000,00 (Januari 2010). Museum ini buka pada hari Selasa hingga Minggu mulai pukul 09.00 – 15.30. Khusus untuk hari Senin museum libur.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Sebagai obyek wisata yang masih baru di Kabupaten Sleman, fasilitas yang dimiliki oleh Museum Gunung Merapi belum begitu lengkap namun sudah cukup memadai bagi wisatawan. Di Museum Gunung Merapi terdapat rest room, toilet, areal parkir, dan pelataran yang sangat luas. Saat ini pihak pengelola Museum Gunung Merapi sedang menambah berbagai fasilitas untuk pengunjung seperti gazebo, kafetaria, serta gedung teater. Kawasan ini juga sedang dalam proses pengembangan menuju kawasan wisata terpadu alternatif.
Meskipun belum ada kafetaria di dalam museum, Anda tidak perlu khawatir, karena sekitar 100 meter dari museum terdapat warung makan yang dikelola oleh penduduk lokal. Wisatawan yang ingin menikmati dinginnya malam di lereng Merapi dapat menginap di hotel maupun losmen yang ada di kawasan tersebut. Jika Anda memiliki waktu yang cukup banyak, silakan Anda melanjutkan perjalanan ke Kaliurang, Museum Ulen Sentalu, Tlaga Putri, Lava Tour Kaliadem, ataupun agrowisata di sekitar Turi dan Pakem.

Objek yang Terdapat di Museum Merapi
1 Ruang Utama
       Ruangan ini berada di bagian depan museum, yakni tepat setelah pengunjung masuk ke dalam bangunan museum. Ruangan ini berupa void hingga lantai dua, dimana bentuk lantai pada lantai dua adalah lingkaran. Di dalam ruangan ini terdapat sebuah replika Gunung Merapi dalam ukuran diameter +6 meter.
Gambar  4.18 Simulasi Gunung Merapi
Replika ini merupakan simulasi letusan Gunung Merapi. Terdapat 4 tombol yang masing-masing bila ditekan akan menghadirkan sebuah interaksi. Tombol paling kiri akan menampilkan narasi mengenai Gunung Merapi, narasi ini menggunakan bahasa Inggris pada awalnya yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.
Gambar 4.19 Rancangan potongan ruangan gedung pertama

Tombol berikutnya bertuliskan tahun erupsi Gunung Merapi. Ketika ditekan akan menampilkan lelehan lava yang menuruni gunung dan suara letusan serta gemuruh. Saat ini hanya tombol ”tahun 2002” yang berfungsi, sedangkan tombol ”tahun 2006” dan ”tahun 2010” belum difungsikan.

2 Ruang Peraga
Jika pengunjung mengikuti alur sirkulasi, maka akan diarahkan melalui sisi kanan, di mana ada petunjuk berupa eak-kaki. Ruang peraga terdiri dari beberapa bagian, yakni:
a.       Peraga 1
Di ruangan ini berisi informasi mengenai pengetahuan pembentukan lempeng benua dan pengetahuan gunung api secara umum. Di salah satu panel terdapat peta lokasi gunung api yang berada di seluruh dunia dan seluruh Indonesia.
Gambar 4.20 Arah sirkulasi pengunjung ditunjukkan dengan jejak kaki
b.      Peraga 2
Bagian ini merupakan awal zona khusus Gunung Merapi. Di bagian ini terdapat replika Gunung Merapi dalam bentuk kecil dan pengetahuan umum mengenai Gunung Merapi.
Gambar 4.21 Praga khusus Gunung Merapi
c.       Peraga 3
Berisi foto-foto kunjungan presiden ke Gunung Merapi, sketsa penyelamatan diri dari bencana erupsi gunung api, dan beberapa hal berkaitan dengan mitigasi bencana.
Gambar 4.22 Peraga petunjuk mitigasi bencana
d.      Peraga 4
Berisi berbagai peralatan yang digunakan dalam pengamatan Gunung Merapi, seperti seismograf, sensor gempa, kamera, teropong, komputer penganalisa, alat telekomunikasi, dll. 

Apabila terjadi erupsi letusan dari suatu gunungapi, seperti yang ditunjukkan oleh Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, selain mengeluarkan gas-gas volkanik juga ikut keluar magma. Magma dilontarkan ke udara melalui kawah gunungapi itu. Magma yang dilontarkan itu membeku dengan cepat membentuk material padat dengan berbagai ukuran, mulai dari yang berukuran debu sampai berukuran bongkah. Selain magma, dapat pula tubuh gunungapi itu ikut hancur dan materialnya juga ikut terlempar. Semua material itu disebut sebagai material piroklastik. Batuan yang terbentuk oleh material piroklastik itu disebut sebagai batuan piroklastik. Tephra  adalah sebutan untuk semua fragmen batuan volkanik atau lava tanpa memperhatikan ukurannya yang dolontarkan ke udara ketika terjadi erupsi letusan gunungapi atau oleh semburan gas panas dalam kolom erupsi atau oleh semburan lava (lava fountain).

            Komponen penyusun batuan piroklastik yang utama adalah material yang berasal dari magma yang dilontarkan ketiak erupsi letusan gunungapi terjadi. Komponen penyusun lainnya dapat berasal dari batuan tubuh gunungapi yang ikut hancur dan terlempar ke udara, dari sumbat lava, atau dari batuan yang lebih tua yang diterobos oleh magma seperti batuan volkanik, batuan plutonik;  kadang-kadang juga bisa ada batuan sedimen atau batuan metamorfik.
            Magma yang dilontarkan ke udara ketika terjadi erupsi letusan segera membeku. Material yang terbentuk bisa berupa gelas volkanik, kristal mineral atau batuan beku. Ukuran butirannya dapat bervariasi mulai dari berukuran debu, pasir, kerikil maupun bongkah. Material piroklastik disebut sebagai debu volkanik bila berukuran < 2 mm. Komponen penyusunnya dapat berupa gelas volkanik maupun kristal mineral. Debu volkanik ini apabila menjadi batuan disebut sebagai tuff.
            Aktivitas vulkanik yang cukup tinggi menghasilkan berbagai material vulkanis ditandai dengan intensitas banjir lahar dingin yang cukup sering melewati sungai-sungai di sekitar Gunung Merapi seperti yang terjadi di Kali Kuning dan Kali Putih. Terakhir, material lahar dingin tersebut merusak jembatan yang terletak di atas Kali Putih. Namun, peristiwa tersebut juga mendatangkan rejeki karena pasir hasil dari lahar dingin tersebut dapat ditambang oleh penduduk sebagai bahan bangunan. Selain material lahar dingin, awanpanas (piroklastik) mengalir melalui hampir semua hulu sungai yang ada di puncak Merapi yaitu Apu, Trising, Senowo, Blongkeng, Batang, Woro, dan Gendol.


2 komentar:

  1. Loh, kog isinya hasil copy dari blog saya?? gimana nih??
    Tolong dihapus ya.. Saya beri waktu 24 jam sebelum saya laporkan ke pihak Google...
    Terimakasih

    BalasHapus
  2. afwan apakah tidak sebaiknya ilmu itu untuk disebarkan ??
    jika boleh berkenan silahkan tampilkan alamat blog anda disumber saya.
    saya dapat file juga dari teman2 kkl.

    BalasHapus