Minggu, 20 Mei 2012

PERTAMBANGAN


PERTAMBANGAN

            Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam Sumberdaya alam (baik renewable maupun non renewable) merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Hilangnya atau berkurangnya ketersediaan sumberdaya tersebut akan berdampak sangat besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi (Fauzi, 2004). Kekayaan sumberdaya alam Indonesia ini pula yang menyebabkan negara kita dijajah selama berabad-abad oleh negara Belanda dan juga selama tiga setengah tahun oleh negara Jepang.
       Salah satu sumberdaya alam yang kita miliki adalah mineral emas dan perak, yang termasuk dalam golongan sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non renewable). Sektor pertambangan merupakan salah satu andalan untuk mendapatkan devisa dalam rangka kelangsungan pembangunan Negara.

Kegiatan Penambangan

            Tanah merupakan salah satu faktor yang terpenting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa pada umumnya setelah manusia berhasil menguasai sebidang atau seluas tanah, mereka mengabaikan fungsi tanah, bahkan merusak dan selanjutnya menelantarkan tanah itu sendiri ( Kartasapoetra, dkk, 2005 ).
Usaha penambangan merupakan usaha melakukan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, produksi, dan penjualan. Menurut Rahmi (1995), penggolongan bahan-bahan galian adalah sebagai berikut :

1.      Golongan a, merupakan bahan galian strategis, yaitu strategis untuk perekonomian Negara serta     pertahanan dan keamanan Negara.
2.      Golongan b, merupakan bahan galian vital, yaitu dapat menjamin hajat hidup orang banyak,           Contohnya besi, tembaga, emas, perak dan lain-lain.
3.      Golongan c, bukan merupakan bahan galian strategis ataupun vital, karena sifatnya tidak langsung   memerlukan pasaran yang bersifat internasional.
      Contohnya marmer, batu kapur, tanah liat, pasir, yang sepanjang tidak  mengandung unsur mineral.

            Menurut Undang-Undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan menyebutkan bahawa pertambangan rakyat adalah suatu usaha pertambangan bahan-bahan galian dari semua golongan a, b dan c yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan atau gotong royong dengan alat-alat sederhana untuk pencairan sendiri. (As’ad, 2005).
            Pertambangan rakyat dilakukan oleh rakyat, artinya dilakukan oleh masyarakat yang berdomisili di area pertambangan secara kecil-kecilan atau gotong royong dengan alat-alat sederhana. Tujuan mereka adalah untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari. Dilaksanakan secara sederhana dan dengan alat sederhana, jadi tidak menggunakan teknologi canggih, sebagaimana halnya dengan perusahaan pertambangan yang mempunyai modal besar dan memakai telknologi canggih. Dari uraian di atas, dapat dikemukakan unsur-unsur pertambangan rakyat, yaitu :

1. Usaha pertambangan
2. Bahan galian meliputi bahan galian strategis, vital dan galian c
3. Dilakukan oleh rakyat
4. Domisili di area tambang rakyat
5. Untuk penghidupan sehari-hari
6. Diusahakan dengan cara sederhana.

            Kegiatan penambangan rakyat dapat mempengaruhi sifat fisika, kimia serta biologi tanah melalui pengupasan tanah lapisan atas, penambangan, pencucian serta pembuangan tailing. Penambangan rakyat yang tidak memperhatikan aspek lingkungan akan menyebabkan terancamnya daerah sekitarnya dengan bahaya erosi dan tanah longsor karena hilangnya vegetasi penutup tanah (As’ad, 2005 ).
            Lahan yang digunakan untuk pertambangan tidak seluruhnya digunakan untuk operasi pertambangan secara serentak, tetapi secara bertahap. Sebagian besar tanah yang terletak dalam kawasan pertambangan menjadi lahan yang tidak produktif. Sebagian dari lahan yang telah dikerjakan oleh pertambangan tetapi belum direklamasi juga merupakan lahan tidak produktif. Lahan bekas kegiatan pertambangan menunggu pelaksanaan reklamasi pada tahap akhir penutupan tambang. Kalau lahan yang telah selesai digunakan secara bertahap direklamasi, maka lahan tersebut dapat menjadi lahan produktif ( Nurdin dkk, 2000).
Perkembangan Hasil Pertambangan
a. Minyak Bumi
            Produksi minyak bumi Indonesia pada tahun 1981/82 mencapai 570,5 juta barrel. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah produksi minyak bumi ini mengalami penurunan sebesar 10,6 juta barrel atau 1,8%, dan jika dibandingkan dengan angka proyeksi cahun ketiga Repelita III sebesar 604,0 juta barrel, maka pro-duksi riil adalah 5,5% lebih rendah. Dari produksi 570,5 juta barrel tersebut, 369,0 juta barrel berasal dari produksi da-   ratan sedang sisanya sebesar 201,5 juta barrel adalah hasil produksi lepas pantai.
            Pada Tabel IX-2 dan Grafik IX-1 dapat dilihat perkembangan produksi minyak bumi Indonesia dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82.Selama tahun 1981/82 kegiatan eksplorasi minyak bumi menga­lami peningkatan yang menggembirakan dengan telah dibornya se­jumlah 247 sumur. Hal ini berarti kenaikan sebesar 50 sumur   atau 25,3% dari jumlah pengeboran 197 sumur yang telah dicapai pada tahun sebelumnya. Survai seismik dalam tahun 1981/82 telah dapat menyelesaikan 67.184 Km lintasan, yang berarti kenaikan sebesar 34,4% dibandingkan 49.977 Km lintasan pada tahun  1980/81.
    Pengilangan
    Kapasitas kilang dalam negeri yang terdiri dari kilang­kilang di Pangkalan Brandan, Sungai Ge)ong, Plaju, Balikpapan, Wonokromo, Cepu, Sungai Pakning, Dumai dan Cilacap adalah seki­tar 425.000 barrel per hari. Hasil BBM kilang dalam negeri da­lam tahun 1981/82 sebesar 115,0 juta barrel, sedangkan penjual­an BBM dalam tahun 1981/82 mencapai sekitar 158,6 juta barrel. Oleh karena itu dengan kapasitas kilang yang ada, kebutuhan BBM tidak dapat terpenuhi seluruhnya, sehingga tambahan pengadaan BBM masih tetap dilakukan dengan cara pengolahan di kilang luar negeri (Singapura dan Philipina), serta impor.
     Dalam pada itu sebagai usaha untuk meningkatkan pengadaan BBM dalam negeri, pelaksanaan pembangunan perluasan kilang Balikpapan dan Cilacap dengan tambahan kapasitas masing-masing 200 ribu barrel perhari serta perluasan kilang Dumai unit Hy­drocracker dengan tambahan kapasitas 85 ribu barrel per hari semakin ditingkatkan kegiatannya, dan perluasan kilang-kilang  ini diharapkan selesai pada akhir tahun 1983. Hasil pengilangan minyak bumi dari tahun 1978/79 sampai de- ngan tahun 1981/82 terlihat pada Tabel IX - 3 dan Grafik IX-2.

E k s p o r

            Keadaan pasaran minyak bumi internasional dalam tahun 1981/82 agak lesu dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, akibat negara-negara pembeli minyak bumi atau negara-negara Industri mulai mengurangi pembelian. Pada tanggal 10 September 1981, Pe­merintah telah mengadakan penyesuaian harga minyak bumi Indone­sia khusus untuk jenis minyak yang kurang mendapat pasaran.
            Dalam tahun 1981/82, realisasi volume ekspor minyak bumi mengalami penurunan sebesar 6,4 juta barrel atau penurunan 1,7% dibandingkan tahun 1980/81, akan tetapi untuk nilai ekspornya dicapai kenaikan sebesar 5,6%. Untuk ekspor hasil-hasil minyak realisasinya dalam tahun 1981/82 mengalami penurunan baik untuk volume maupun nilai ekspornya, yaitu penurunan sebesar 9,1 juta barrel atau penurunan 15,0% untuk volume ekspor dan penurunan sebesar 12,7% untuk nilai ekspor dibandingkan dengan tahun 1980/81. Realisasi volume ekspor minyak bumi dan hasil minyak dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82 adalah seperti pada Tabel IX-4 dan Grafik IX-3.

Pemasaran Dalam Negeri


Sebagai konsekuensi dari peningkatan pembangunan nasional, maka pemasaran BBM terus meningkat dalam tahun 1981/82, khu­susnya di sektor industri dan perhubungan. Dalam rangka usaha untuk mengurangi subsidi BBM, Pemerintah melalui Keppres No.1 Tahun 1982 tanggal 3 Januari 1982 telah melakukan penyesuaian harga BBM di dalam negeri terhitung tang­gal 4 Januari 1982. Dalam tahun 1981/82 hasil penjualan BBM di dalam negeri tercatat sebesar 158,6 juta barrel, yang berarti terjadi kena- ikan sebesar 14,7 juta barrel atau kenaikan 10,2% dibandingkan dengan tahun 1980/81. Demikian pula untuk penjualan bahan pe­lumas, dalam tahun 1981/82 tercatat hasil penjualan sejumlah 991,0 ribu barrel. Jumlah tersebut menunjukkan kenaikan 79,0 ribu barrel atau kenaikan 8,7% dibandingkan dengan hasil pen-jualan sebesar 912,0 ribu barrel dalam tahun 1980/81.
     Perkembangan pemasaran hasil minyak bumi di dalam negeri dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82 adalah seperti pada Tabel IX-5 dan Grafik IX-4. Dengan adanya kenaikan kebutuhan BBM dari tahun ke tahun, maka disamping usaha penambahan kapasitas kilang dilakukan pula peningkatan penambahan sarana penyaluran/distribusi BBM yang meliputi penambahan pembangunan depot baru dan perluasan depot lama, pelabuhan BBM, tanki penimbunan, kapal tanker, truk tan-ki, kereta tanki, pipa penyalur, stasiun pompa BBM untuk umum dan lain-lain. Dalam tahun 1981/82 telah diselesaikan pemba­ngunan 10 buah base-depot dan sub-depot untuk wilayah Indonesia bagian Timur, yakni Bau-bau di Propinsi Sulawesi Tenggara,  Dilli di Propinsi Timor Timur, Maumere dan Ende di Propinsi  Nusa Tenggara Timur, Tual, Bula, Masehi dan Namlea di Propinsi Maluku, Gorontalo di Propinsi Sulawesi Utara dan Tolitoli di Propinsi Sulawesi Tengah.




b. Gas Bumi
            Dalam tahun 1981/82, baik produksi gas bumi maupun pemanfa­atannya mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 1980/81. Produksi gas bumi tahun 1981/82 adalah sebesar. 1.136,2 milyar kaki kubi k, yaitu kenaikan sebesar 94,0 milyar kaki kubik atau kenaikan sebesar 9%.

TABEL IX - 4
EKSPOR MINYAK BUMI DAN HASIL MINYAK,
1978/79 - 1981/82
(juta barrel)
..\11a.bmp
 



*) Termasuk LPG




TABEL IX - 5
PEMASARAN HASIL MINYAK BUMI DI DALAM NEGERI,
1978/79 - 1981/82
(ribu barrel)
..\11b.bmp


1) Angka diperbaiki
2) Termasuk aviation Gasoline dan Bunker Oil
yang dijual utuk kapal terbang dan kapal laut
asing yang berlabuh di pelabuhan Indonesia, serta
pemakaian sendiri

IX/11
GRAFIK IX – 3
EKSPOR MINYAK BUMI DAN HASIL MINYAK,
..\12.bmp1978/79 - 1981/82



GRAFIK IX – 4
PEMASARAN HASIL MINYAK BUMI DI DALAM NEGERI,
1978/79 – 1981/82
..\13.bmp
 

















Dari jumlah 1.136,2 milyar kaki kubik produksi, gas bumi yang dimanfaatkan adalah sebesar 914,8 milyar kaki kubik, yang berarti terjadi peningkatan pemanfaatan sebesar 101,7 milyar kaki kubik atau 12,5% dibandingkan tahun 1980/81. Peningkatan pemanfaatan gas bumi terjadi karena beberapa sebab, yaitu meningkatnya produksi LNG (gas alam cair) untuk ekspor, pembuatan pupuk urea, pemanfaatan gas bumi sebagai pengganti BBM antara lain untuk gas kota di Jakarta, Bogor, Cirebon dan sebagainya.
Perkembangan produksi dan pemanfaatan gas bumi dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82 adalah pada Tabel IX-6 dan Grafik IX-5. Pemanfaatan gas bumi dalam bentuk LNG sebagai sumber daya hidrokarbon untuk diekspor, semakin meningkat peranannya dalam perekonomian Indonesia. Dalam tahun 1981/82 produksi dan ekspor LNG mengalami kenaikan dibandingkan tahun 1980/81. Masing-ma-sing jumlah produksi dan ekspornya adalah 474.296,8 ribu MMBTU dan 451.964,9 ribu MMBTU, yang berarti kenaikan sebesar  24.949,3 ribu MMBTU atau 5,6% untuk produksi dan kenaikan sebe­sar 5.203,3 ribu MMBTU atau 1,2% untuk ekspornya. Perkembangan produksi dan ekspor LNG dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82 adalah seperti pada Tabel IX-7 dan Grafik IX-6.
c. Batubara

Penambangan batubara di Indonesia saat ini dilaksanakan oleh dua buah perusahaan, yaitu PT. (Persero) Tambang Batubara Bukit Asam dan PN. Tambang Batubara. Di eamping itu, dalam rangka pengembangan batubara telah ditanda tangani empat buah kontrak kerjasama pengembangan dengan perusahaan asing, di dae­rah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Secara keseluruhan produksi batubara tahun 1981/82 adalah sebesar 367,2 ribu ton. Jumlah produksi batubara tersebut me-nunjukkan kenaikan sebesar. 37,9 ribu ton atau 11,5% dibanding-kan dengan tahun 1980/81. Kenaikan tersebut terutama diperoleh dari hasil penambangan  PN. Tambang Batubara di daerah Ombilin, Sumatera Barat.

TABEL IX - 6
PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI,
1978/79 - 1981/82
(milyar kaki kubik)

..\15a.bmp
*) Angka diperbaiki
TABEL IX – 7
PRODUKSI DAN EKSPOR LNG1),
1978/79 – 1981/82
(ribu MM BTU)2)

..\15b.bmp
1)      Liquified Natural Gas
2)      Million British Thermal Unit
3)      Angka diperbaiki

IX/15
GRAFIK IX – 5
PRODUKSI DAN PEMANFAATAN GAS BUMI,
1978/79 – 1981/82

..\16.bmp
GRAFIK IX – 6
PRODUKSI DAN EKSPOR LNG,
1978/79 – 1981/82

..\17.bmp

            Ikatan produksi ini dapat dilaksanakan dengan adanya penambahan sarana penambangan dan peningkatan efisiensi kerja. Dalam tahun 1981/82, PN. Tambang Batubara Ombilin telah dapat menyelesaikan pembangunan unit pencucian batubara dengan kapasitas 150 ton   per jam, sehingga kualitas batubara yang diproduksi sekarang jauh lebih baik dari hasil produksi sebelumnya.
Hasil penambangan batubara di Bukit Asam mengalami penurun­an, hal ini disebabkan adanya kesibukan penggeseran lokasi pe­nambangan dalam rangka usaha pengembangan batubara Bukit Asam. Tingkat produksi PT. Tambang Batubara Bukit Asam nantinya di­rencanakan sebesar 3,3 juta ton per tahun pada 1987 dan peng­gunaannya diarahkan untuk bahan bakar PLTU (pusat liStrik tena-ga uap) Suralaya di daerah Serang, Jawa Barat. Tabel IX-8 dan Grafik IX-7 menunjukkan perkembangan produksi batubara dari tahun 1978/79 sampai dengan tahun 1981/82.

d. T i m a h

Penambangan timah selain diusahakan oleh PT. Tambang Timah, juga dilakukan oleh perusahaan swaata nasional dalam rangka kontrak dengan PT. Tambang Timah dan perusahaan asing dalam rangka kontrak karya dengan Pemerintah. Penambangan dilaksanak-an di Pulau Bangka, Belitung, Singkep, Karimun dan Bangkinang.
Dalam usaha meningkatkan produksi, PT. Tambang Timah saat  ini sedang membangun Kapal Keruk Singkep I dengan daya keruk sampai kedalaman 50 meter dengan kapasitas 750-1.000 m ton per tahun, serta melaksanakan pula sistem penambangan baru untuk  tambang berar, tambang mekanis dan tambang amphibi.
Demikian pula dalam rangka diversifikasi usaha, PT. Tambang Timah saat ini sedang membangun pabrik pengolahan kaolin di Tanjung Pandan, Belitung dengan kapasitas 27.000 ton per tahun dengan memanfaatkan endapan kaolin yang terdapat di pulau Bang-ka dan Belitung. Di samping itu juga sedang dipersiapkan pem­bangunan pabrik Tin Plate di Kawasan Industri Cilegon, Jawa    Barat, bekerjasama dengan PT. Krakatau Steel dan pihak Swasta  PT. Nusambu.

Produksi


Jumlah produksi untuk tahun 1981/82 adalah sebesar 35,9  ribu ton bijih timah dan 33,0 ribu ton logam timah, yang berarti suatu kenaikan produksi bijih timah sebesar 2,3 ribu ton  atau 6,8% dan 1,8 ribu ton atau 5,8% logam timah jika diban dingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Dengan tingkat pro­duksi timah tersebut, Indonesia telah naik dari nomor tiga men­jadi negara produsen nomor dua terbesar di dunia sesudah Ma1ay­sia.
Produksi bijih timah dan logam timah Indonesia untuk 1978/79 - 1981/82 adalah seperti pada Tabel IX-9 dan Grafik IX-8

E k s p o r

Dalam tahun 1981/82, jumlah ekspor logam timah Indonesia adalah sebesar 32,8 ribu ton, yang berarti meningkat sebesar  1,5 ribu ton atau kenaikan 4,8% dibandingkan dengan ekspor  tahun 1980/81. Di samping itu hasil penjualan logam timah di dalam negeri tahun 1981/82 tercatat sebesar 438,0 ton, yang berarti kenaikan sebesar 70,5 ton atau 19,2% dibandingkan dengan hasil penjualan tahun 1980/81. Ekspor logam timah dan hasil penjualan logam timah di dalam negeri untuk tahun 1978/79-1981/82, masing-masing terlihat se-  perti pada Tabel IX-10 dan Grafik IX-9 dan Tabel IX-11 dan   Grafik IX-10.
e. N i k e l

Usaha penambangan nikel dilakukan oleh Unit Penambangan Nikel dari PT. Aneka Tambang di daerah Pomalaa, Sulawesi Tenggara dan di Pulau Gebe. Produksi bijih nikel selama tahun 1981/82 adalah 1.598,1 ribu ton, yang berarti menunjukkan ke­naikan sebesar 258,8 ribu ton atau 19,3% dibandingkan dengan tahun 1980/81. Sebaliknya realisasi ekspor bijih nikel untuk tahun 1981/82 sejumlah 1.207,5 ribu ton, dibandingkan dengan tahun 1980/81 mengalami penurunan sebesar 31,2 ribu ton atau 2,5% yang disebabkan karena berkurangnya permintaan.
Produksi dan ekspor bijih nikel selama tahun 1978/79 - 1981/82 tampak seperti dalam Tabel IX-12 dan Grafik IX-11. Pabrik pengolahan bijih nikel menjadi ferronikel berkadar + 20% di Pomalaa, direncanakan diperluas dengan telah selesainya studi kelayakan perluasan pabrik ferronikel Pomalaa.







TABEL IX - 8
PRODUKSI BATUBARA,
1978/79 - 1981/82
(ribu ton)


..\20a.bmp

TABEL IX – 9
PRODUKSI BIJIH DAN LOGAM TIMAH,
1978/79 – 1981/82
(ribu ton)



..\20b.bmp






GRAFIK IX – 7
PRODUKSI BATUBARA,
..\21.bmp1978/79 – 1981/82












GRAFIK IX – 8
..\22.bmpPRODUKSI BIJIH DAN LOGAM TIMAH, 1978/79 – 1981/82

TABEL IX – 10
EKSPOR LOGAM TIMAH,
1978/79 – 1981/82

..\23a.bmp







TABEL IX – 11
PENJUALAN LOGAM TIMAH DI DALAM NEGERI,
1978/79 – 1981/82
(ton)

..\23b.bmp
GRAFIK IX – 9
EKSPOR LOGAM TIMAH,
1978/79 – 1981/82
..\24.bmp

GRAFIK IX – 10
PENJUALAN LOGAM TIMAH DI DALAM NEGERI,
1978/79 – 1981/82


..\25.bmp


TABEL IX – 12
PRODUKSI DAN EKSPOR BIJIH NIKEL,
1978/79 – 1981/82
(ribu ton)


..\26a.bmp
TABEL IX – 13
PRODUKSI DAN EKSPOR NIKEL DALAM FERONIKEL,
1978/79 – 1981/82
(ton)


..\26b.bmp

ditempuh sehubungan adanya kebijaksanaan pemerintah Jepang untuk mengurangi impor bijih nikel.
Dalam tahun 1981/82 produksi dan ekspor nikel dalam bentuk ferronikel mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 1980/81. Produksi mencapai 4.765,5 ton yang berarti kenaikan sebesar 259,1 ton atau 5,7%, sedang ekspor berjumlah 5.094,8  ton yaitu kenaikan sebesar 661,1 ton atau 14,9%. Tabel IX-13 memperlihatkan perkembangan produksi dan ekspor nikel dalam ferronikel dari tahun 1978/79 sampai dengan 1981/82.
Dalam pada itu PT. Internasional Nickel Indonesia (PT. INCO) juga melaksanakan penambangan nikel di daerah Soroako, Sulawesi Selatan yaitu dengan mengolah nikel menjadi nikel matte yang berkadar + 75% Ni untuk diekspor.
Resesi ekonomi dunia yang masih berlangsung hingga saat ini menimbulkan kesulitan dalam pemasaran nikel dunia. Oleh karena  itu PT. INCO untuk tahun 1982 telah menurunkan sasaran produk-sinya menjadi 10.260 ribu ton atau + 50% dari produksi tahun sebelumnya.
Produksi nikel matte tercatat sebesar 19.201 ton pada tahun 1981/82, yaitu kenaikan sebesar 1.374 ton atau 7,7% dibanding-  kan dengan produksi tahun 1980/81. Ekspor nikel matte adalah sebesar 16.907 ton pada tahun 1981/82, yang berarti mengalami penurunan sebesar 2.989 ton atau 15,0% dibandingkan dengan ekspor tahun 1980/81.
Perkembangan produksi dan ekspor nikel matte dalam periode 1978/79 - 1981/82 adalah seperti pada Tabel IX-14 dan Grafik  IX-12.

f. B a u k s i t

Pada saat ini penambangan bauksit dilakukan oleh Unit Pe­nambangan Bauksit, PT. Aneka Tambang di lima daerah, yaitu Kijang, Angkut, Tembiling, Kelong dan Koyang.
Dalam tahun 1981/82 produksi dan ekspor bauksit mengalami penurunan dibandingkan tahun 1980/81. Produksi bauksit berjum-   lah 1.015,1 ribu ton, yang berarti penurunan produksi sebesar 254,8 ribu ton atau 20,1%. Sedangkan ekspor bauksit yang ber- jumlah 885,1 ribu ton mengalami penurunan 312,8 ribu ton atau 26,1%.
TABEL IX - 14
PRODUKSI DAN EKSPOR NIKEL MATTE,
1978/79 - 1981/82

..\29-9.bmp





TABEL IX - 15
PRODUKSI DAN EKSPOR BAUKSIT,
1978/79 - 1981/82
(ribu ton)


..\29b-9.bmp
*) Angka diperbaiki

GRAFIK IX – 12
PRODUKSI DAN EKSPOR NIKEL MATTE,
1978/79 – 1981/82

2000 TON
19,896

GRAFIK IX – 13
PRODUKSI DAN EKSPOR BAUKSIT,
..\12.bmp1978/79 – 1981/82









Cadangan bauksit yang terdapat di Pulau Bintan (+ 60 juta ton) dan di Kalimantan Barat (+ 810 juts ton) adalah bauksit berkadar rendah. Hal ini tidak memungkinkan ekspor baukait da­lam bentuk bijih, sehingga terlebih dahulu harus diolah men-jadi alumina.

Dalam rangka pemanfaatan cadangan bauksit tersebut direnca-nakan akan dibangun tambang di Wacopek, Bintan dengan kapasitas produksi sebesar 1.750.000 ton bijih per tahun dan pembangunan pabrik alumina di Pulau Bintan dengan kapasitas 600.000 ton per tahun berupa "Sandy metallurgical grade alumina".

Pelaksanaan pembangunan akan dilakukan oleh PT. Aneka Tam­bang dan diharapkan penambangan akan mulai berproduksi awal tahun 1985, sedangkan pabrik alumina pada awal tahun 1986.

Pada Tabel IX-15 dan Grafik IX-13 menunjukkan angka-angka produksi dan ekspor baukait selama 1978/79-1981/82.

g. Pasir Besi

Penambangan pasir besi dilaksanakan di daerah pantai Ci­lacap dan Pelabuhan Ratu oleh Unit Penambangan Pasir Besi PT. Aneka Tambang. Pemasaran hasil produksi masih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pabrik-pabrik semen di dalam negeri, yang jumlah pemakaiannya relatif kecil. Demikian pula untuk ekspor, pemasarannya masih terbatas.

Dalam rangka rencana pemanfaatan cadangan pasir besi di   daerah pantai Selatan Yogyakarta untuk pembuatan pellet yang akan dipergunakan sebagai bahan baku pabrik besi PT. Krakatau Steel, saat ini sedang dilakukan studi kelayakannya. Penelitian dilakukan oleh team terpadu antar Departemen Pertambangan dan Energi, Perindustrian dan BPP Teknologi.

Tabel IX-16 dan Grafik IX-14 menunjukkan perkembangan pro­duksi dan ekspor pasir besi dalam periode 1978/79-1981/82.
h. Emas dan Perak
Unit Penambangan Emas PT. Aneka Tambang melaksanakan penam­bangan emas di daerah Cikotok, Jawa Barat. Eksploitasi penam­bangan yang semakin dalam menghasilkan bijih dengan kandungan  unsur logam timbal dan seng yang semakin tinggi, sedangkan kan­dungan emas dan perak semakin rendah.
Penyempurnaan proses pengolahan juga dapat menghasilkan konsentrat timbal dan seng untuk kemudian diekspor dalam bentuk konsentrat. Dalam tahun 1981/82 produksi dan penjualan di dalam negeri baik emas maupun perak mengalami penurunan dibandingkan  tahun sebelumnya.
Produksi dan penjualan emas yang tercatat masing-masing    adalah 172,6 kilogram dan 170,7 kilogram, yang berarti penurun-  an sebesar 52,1 kilogram atau 23,2% untuk produksi dan penurun-  an sebesar 75,4 kilogram atau 30,6% untuk penjualan. Sedangkan produksi dan penjualan logam perak di dalam negeri, tercatat  masing-masing 1.940 kilogram dan 1.942 kilogram, yaitu penurun-
an produksi sebesar 343 kilogram atau 15,0% dan penjualan mengalami penurunan sebesar 437 kilogram atau 18,4%.

Tabel IX-17 dan Grafik IX-15 dan Tabel IX-18 dan Grafik IX-16 masing-masing menunjukkan produksi dan penjualan di dalam negeri logam emas dan perak untuk 1978/79-1981/82.

i. T e m b a g a

Penambangan bijih tembaga dilakukan di daerah Tembagapura, Irian Jaya oleh Freeport Indonesia Inc. Pengaruh resesi ekonomi dunia menimbulkan kelesuan pada pasaran tembaga dunia, sehingga belum memungkinkan perusahaan ini untuk meningkatkan produksi-  nya secara maksimal.

Sehubungan dengan itu pengembangan cadangan bijih di Gunung Bijih Timur masih dalam kegiatan persiapan produksi sambil me­nunggu membaiknya harga pasaran tembaga dunia. Produksi dan ekspor konsentrat tembaga dalam tahun 1981/82 adalah 196,9 ribu  ton dan 209,7 ribu ton. Hal ini berarti menunjukkan kenaikan untuk produksi sebesar 18,2 ribu ton atau 10,2% dan ekspor se-besar 76,9 ribu ton atau 57,9% dibandingkan produksi dan ekspor pada tahun 1980/81.

Tabel IX-19 dan Grafik IX-17 memperlihatkan hasil produksi  dan ekspor konsentrat tembaga dari tahun 1978/79 sampai dengan 1981/82.

j. G r a n i t
Penambangan batu granit dilaksanakan di daerah pulau Karimun oleh PT. Karimun Granit.


TABEL IX - 16
PRODUKSI DAN EKSPOR PASIR BESI,
1978/79 - 1981/82

..\34a-9.bmp
*) Angka diperbaiki






TABEL IX – 17
PRODUKSI DAN PENJUALAN LOGAM EMAS DI DALAM NEGERI,
1978/79 – 1981/82
(kilogram)


..\34b-9.bmp
*) Angka diperbaiki


GRAFIK IX - 14
PRODUKSI DAN EKSPOR PASIR BESI,
1978/79 - 1981/82
..\35-9.bmp





GRAFIK IX 15
PRODUKSI DAN PENJUALAN LOGAM EMAS DI DALAM NEGERI,
1978/79 - 1981/82

..\36-9.bmp

TABEL IX - 18
PRODUKSI DAN PENJUALAN LOGAM PERAK DI DALAM NEGERI,
1978/79 - 1981/82
(kilogram)


..\37a-9.bmp
                                    *) Angka diperbaiki





TABEL IX – 19
PRODUKSI DAN VOLUME EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA,
1978/79 –1981/82*)
(ribu ton kering)


..\37b-9.bmp
                                    *) Seri tahun diperbaiki

GRAFIK IX 16
PRODUKSI DAN PENJUALAN LOGAM PERAK DI DALAM NEGERI ,
1978/79 - 1981/82

..\38-9.bmp





GRAFIK IX – 17
PRODUKSI DAN VOLUME EKSPOR KONSENTRAT TEMBAGA,
1978 1981


..\39-9.bmp

Dalam tahun 1981/82 produkai, ekspor, dan penjualan dalam negeri batu granit masing-masing adalah 1.810,9 ribu ton, 941,9 ribu ton dan 605,5 ribu ton. Hasil yang dicapai dalam tahun 1981/82 tersebut menunjukkan suatu peningkatan yang cukup besar. Bila dibandingkan dengan hasil produksi, ekspor, dan pen­jualan dalam negeri batu granit pada tahun 1980/81, tampak ke­naikannya sebesar 884,9 ribu ton atau 95,6% untuk produksi, 423,0 ribu ton atau 81,5% untuk ekspor dan kenaikan 111,6 ribu  ton atau 22,6% untuk penjualan dalam negeri.

Produksi, penjualan dalam negeri dan ekspor batu granit tahun 1978/79 - 1981/82 adalah seperti terlihat dalam Tabel    IX-20.

k. Bahan-bahan tambang lain

Penambangan bahan-bahan tambang lain yang meliputi mangan, aspal, yodium, belerang, fosfat, asbes, kaolin, pasir kwarsa, marmer, gamping, lempung, feldspar, kalsit, yarosit, bentonit  dan gips diusahakan oleh Badan Usaha Milik Negara, perusahaan milik Pemerintah Daerah dan perusahaan swasta nasional. Sebagian besar produksi bahan-bahan tambang ini ditujukan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri. Namun ada beberapa jenis bahan tambang yang diekspor, akan tetapi karena pemasarannya sangat terbatas, maka jumlah dan nilai ekspornya masih sangat kecil dan selalu bervariasi dari tahun ke tahun.

Di samping adanya keterbatasan pemasaran masih dijumpai keterbatasan dalam teknik penambangan yang dipergunakan, yang mengakibatkan hasil produksi berfluktuasi dengan menyolok. Produksi, penjualan dalam negeri dan ekspor bahan-bahan tambang lain untuk 1978/79-1981/82 berturut-turut dapat dilihat pada Tabel IX-21, Tabel IX-22 dan Tabel IX-23.

3. Kegiatan Penunjang

Sebagai langkah usaha untuk mempertahankan hasil-hasil yang telah dicapai di sub sektor,pertambangan selama ini, serta da-  lam rangka menilai kemungkinan peningkatan dan pengembangan potensi pertambangan, kegiatan-kegiatan yang meliputi peneliti-   an, pengembangan, pendidikan dan latihan serta penyediaan fasi­litas operasional terus ditingkatkan.


TABEL IX - 20
PRODUKSI, EKSPOR DAN PENJUALAN DALAM NEGERI BATU GRANIT,
1978 – 1981
..\41-9.bmp(ribu ton)




TABEL IX - 21
PRODUKSI BAHAN TAMBANG USAHA SWASTA NASIONAL,
PERUSAHAAN DAERAH, DAN LAINNYA,
1978 1981


..\41b-9.bmp
1)   Angka diperbaiki
2)   Belum ada data


TABEL IX - 22
PENJUALAN DALAM NEGERI BAHAN TAMBANG USAHA SWASTA NASIONAL,
PERUSAHAAN DAERAH, DAN LAINNYA,
1978 1981

..\42a-9.bmp
1)   Angka diperbaiki
2)   Belum ada data
TABEL IX – 23
EKSPOR BAHAN TAMBANG USAHA SWASTA NASIONAL,
PERUSAHAAN DAERAH, DAN LAINNYA,
1978 1981
..\42b-9.bmp
                                    *) Belum ada dat

Dalam usaha meningkatkan pengembangan pertambangan di dae­rah, telah mulai dilaksanakan kegiatan-kegiatan pengembangan pertambangan dan energi di Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Suma­tera Barat, Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara, Barat. Dalam pada itu kegiatan pengembangan teknologi penambangan dan pengo­lahan bahan tambang serta pembangunan laboratorium tambang te­tap dilanjutkan. Demikian pula kegiatan bimbingan dan pembinaan pertambangan sebagai usaha untuk meningkatkan pertumbuhan usaha pertambangan daerah, swasta nasional maupun rakyat lebih digiatkan. Di sam­ping itu telah dilakaanakan pula evaluasi potensi cadangan batubara di Ombilin, Sumatera Barat.
Sehubungan dengan usaha pengembangan pertambangan dilanjut­kan pula kegiatan pemetaan geologi, penelitian dan pengembangan kegiatan geologi, inventarisasi dan eksplorasi sumber-sumber   daya mineral seperti mineral logam, mineral industri dan batu- bara. Dalam rangka menunjang program diversifikasi sumber energi, survai dan pengujian potensi sumber panas bumi semakin giat dilaksanakan.

Masalah kelestarian lingkungan aemakin menonjol pula dengan meningkatnya kegiatan pembangunan. Dalam hubungannya dengan   sektor pertambangan, dilakukan kegiatan-kegiatan penelitian berkenaan dengan tata lingkungan daerah penambangan, dan geo­logi tata lingkungan dalam hubungannya dengan tata kota dan     tata daerah serta konservasi air tanah. Selain itu dalam rangka penanggulangan bahaya bencana alam, dilakukan kegiatan penyeli­dikan, pengamatan dan pemetaan geologi gunung api serta pengem­bangan dan pembangunan laboratorium gunung api. Program pendidikan dan latihan yang diselenggarakan baik pada pusat pendidikan teknologi mineral di Bandung maupun untuk bidang minyak dan gas bumi di Cepu diharapkan mampu menghasil-kan tenaga-tenaga pertambangan yang trampil dan ahli dalam tugas-tugas teknik maupun non teknik. Oleh karena itu di sam- ping peningkatan program pendidikannya juga dilaksanakan per-  baikan dan peningkatan sarana dan fasilitas pendidikannya.

Manfaat dan Dmpak Pertambangan

            Kegiatan pertambangan pada dasarnya merupakan proses pengalihan sumberdaya alam menjadi modal nyata ekonomi bagi negara dan selanjutnya menjadi modal social. Modal yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan nilai kualitas insan bangsa untuk menghadapi hari depannya secara mandiri. Dalam proses pengalihan tersebut perlu memperhatikan interaksi antara faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup sehingga dampak yang terjadi dapat diketahui sedini mungkin (Soelistijo, 2005). Dampak dari kegiatan pertambangan menurut Muhammad (2000) dapat bersifat positif bagi daerah pengusaha pertambangan. Sedangkan Noor (2005) mengatakan bahwa kegiatan pertambangan bersifat negatif terhadap ekosistem daerah setempat. Munculnya dampak positif maupun negatif dari usaha pertambangan, terjadi pada tahap eksplorasi, eksploitasi termasuk pemrosesan serta penjualan hasil tambang serta pasca tambang.
            Kontribusi pengusahaan pertambangan terhadap pembangunan secara nasional melalui penerimaan negara sangat besar, namun terhadap pembangunan daerah dan masyarakat di sekitar kegiatan pertambangan baik melalui program pemberdayaan masyarakat (community development) maupun program pembangunan lainnya belum merupakan jaminan kesejahteraan sosial-ekonomi (Saleng, 2004). Pengusahaan pertambangan yang lokasinya relatif terpencil atau daerah yang baru dibuka, masyarakat pendatang jauh lebih maju dan sejahtera serta mampu/memiliki semangat bersaing (competition spirit) yang tinggi dibandingkan masyarakat asli setempat. Pelaksanaan pertambangan emas di Kecamatan Batang Toru dimulai sejak tahun 1997 dengan ditemukan cadangan emas melalui proses pengambilan contoh endapan sungai oleh Normandy Anglo Asia Ltd. Sejak saat itu pemerintah memberikan kontrak karya kepada perusahaan PT. Agincourt Resources (PTAR) untuk pertambangan emas, dan perusahaan mulai aktif melakukan kegiatan sejak tahun 2003. Sejak saat itu perusahaan melakukan berbagai kegiatan eksplorasi di
Kecamatan Batang Toru. Dari perekonomian daerah, dapat dilihat berdasarkan PDRB perkapita Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai berikut:
Perkembangan PDRB Perkapita Kabupaten Tapanuli Selatan 2001– 2008

Tahun

PDRB Perkapita
(Harga Berlaku) (Rp)

PDRB Perkapita
(Harga Konstan 2000) (Rp)

2001
3.099.493

2.817.249

2002

3.523.803

2.957.718

2003

5.025.391

3.923.093

2004

5.427.688

3.967.584

2005

5.869.857

4.124.559

2006

6.705.789

4.346.106

2007

7.274.352

4.479.129

2008

9.697.944

6.185.431

Sumber: BPS Tapanuli Selatan, 2009.
            Data tersebut menunjukkan bahwa PDRB perkapita di Kabupaten Tapanuli Selatan cukup rendah. Oleh karena itu kehadiran pertambangan emas di Kecamatan Batang Toru diharapkan dapat meningkatkan kondisi perekonomian Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdasarkan data BPS (2009), persentase penduduk miskin di Kabupaten Tapanuli Selatan adalah sebanyak 28,7%, sedangkan di Kecamatan Batang Toru sendiri diperkirakan persentase penduduk miskin sebesar 25 %.
            Kehadiran perusahaan pertambangan emas ini telah memberikan sumbangan ekonomi terhadap masyarakat, khususnya di Kecamatan Batang Toru. Sumbangan tersebut adalah berupa keterlibatan masyarakat manjadi tenaga kerja pada usaha tambang emas, serta berbagai peluang usaha yang terbuka lebar sebagai akibat kehadiran tambang emas tersebut. Selain berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat, pertambangan tersebut juga memberikan dampak sosial terhadap masyarakat, seperti
            interaksi sosial akibat adanya pendatang baru, dan peningkatan kesejahteraan sosial sebagai dampak dari peningkatan ekonomi masyarakat. Peningkatan sosial ekonomi masyarakat ini selanjutnya akan berdampak terhadap pengembangan wilayah Kecamatan Batang Toru. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian dalam hal dampak sosial ekonomi dari pertambangan emas di Kecamatan Batang Toru Kabupaten Tapanuli Selatan.
            Pertambangan dapat menciptakan kerusakan lingkungan yang serius dalam suatu kawasan/wilayah. Potensi kerusakan tergantung pada berbagai factor kegiatan pertambangan dan faktor keadaan lingkungan. Faktor kegiatan pertambangan antara lain pada teknik pertambangan, pengolahan dan lain
sebagainya. Sedangkan faktor lingkungan antara lain faktor geografis dan morfologis, fauna dan flora, hidrologis dan lain-lain.
            Kegiatan pertambangan mengakibatkan berbagai perubahan lingkungan, antara lain perubahan bentang alam, perubahan habitat flora dan fauna, perubahan struktur tanah, perubahan pola aliran air permukaan dan air tanah dan sebagainya. Perubahan-perubahan tersebut menimbulkan dampak dengan intensitas dan sifat yang bervariasi. Selain perubahan pada lingkungan fisik, pertambangan juga mengakibatkan perubahan kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.
            Dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan tidak hanya bersumber dari pembuangan limbah, tetapi juga karena perubahan terhadap komponen lingkungan yang berubah atau meniadakan fungsi-fungsi lingkungan. Semakin besar skala kegiatan pertambangan, makin besar pula areal dampak yang ditimbulkan. Perubahan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dapat bersifat permanen, atau tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Perubahan topografi tanah, termasuk karena mengubah aliran sungai, bentuk danau atau bukit selama masa pertambangan, sulit dikembalikan kepada keadaannya semula.
            Kegiatan pertambangan juga mengakibatkan perubahan pada kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Perubahan tata guna tanah, perubahan kepemilikan tanah, masuknya pekerja, dan lain-lain. Pengelolaan dampak pertambangan terhadap lingkungan bukan untuk kepentingan lingkungan itu
sendiri tetapi juga untuk kepentingan manusia (Nurdin, dkk, 2000).
Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dampak pertambangan terhadap lingkungan sangat penting. Keterlibatan masyarakat sebaiknya berawal sejak dilakukan perencanaan ruang dan proses penetapan wilayah untuk pertambangan. Masyarakat setempat dilibatkan dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan usaha pertambangan serta upaya penanggulangan dampak yang merugikan maupun upaya peningkatan dampak yang menguntungkan. Pemerintah Daerah bertanggung jawab terhadap pengawasan pelaksanaan keterlibatan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar