Minggu, 20 Mei 2012

Jurnal ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN PERTANIAN TERHADAP KAWASAN PERTANIAN BERDASARKAN RENCANA PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2008-2018.


ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN PERTANIAN TERHADAP KAWASAN PERTANIAN BERDASARKAN RENCANA PENGGUNAAN LAHAN DI KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2008-2018.
Vionita Firdausy1
Fakultas Ilmu Sosial – Universitas Negeri Malang.
ABSTRAK
Kabupaten Lumajang adalah kabupaten yang memiki kondisi lahan yang subur. Hal ini dikarenakan Kabupaten Lumajang diapit oleh tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru (3.676 m), Gunung Bromo (3.292 m) dan Gunung Lamongan. Dikabupaten lumajang potensi paling besar yang dimiliki yaitu sektor pertanian. Dan fungsi penggunaan lahan terbesar di Kabupaten Lumajang didominasi oleh lahan pertanian dan tegalan yaitu >50%. Oleh karena itu pemerintah perlu membuat rencana penggunaan lahan. Hal ini dikarenakan lahan-lahan yang terbangun di Kabupaten Lumajang bersifat teraglomerasi. Setidaknya dengan adanya rencana penggunaan wilayah ini penggunaan lahan di Kabubapen Lumajang bisa terarah  dan teratur sesuai dengan yang diharapkan.
Kata kunci: potensi pertanian, kawasan pertanian, rencana penggunaan lahan.
ABSTRACT
Lumajang district is thinking about the condition of the fertile land. This is because Lumajang flanked by three volcanoes is Mount Semeru (3676 m), Mount Bromo (3292 m) and Mount Lamongan. Dikabupaten Lumajang possessed the greatest potential for the agricultural sector. And function of the largest land use in Lumajang dominated by agricultural land and the moor is> 50%. Therefore, governments need to make land use plans. This is because the land that is built up in Lumajang are agglomerated. At least with the intended use of this area of land use in Kabubapen Lumajang be directed and organized as expected.
Key words: agricultural potential, agricultural areas, land use plans.



PENDAHULUAN
Secara astronomis Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53'–113°23' Bujur Timur dan 7°54'–8°23' Lintang Selatan. Dengan Luas wilayah 1.790,90 Km2 atau 3,74% dari luas Propinsi Jawa Timur. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut :
 -  Sebelah barat         :   Kabupaten Malang
 -  Sebelah utara         :   Kabupaten Probolinggo
 -  Sebelah timur         :   Kabupaten Jember
 -  Sebelah selatan      :   Samudera Indonesia
Secara topografi Kabupaten Lumajang terbagi kedalam 4 daerah yaitu : daerah gunung, pegunungan, dataran fluvial dan dataran alluvial. Untuk kategori yang kedua ranuyoso, tempursari, sekitar gunung semeru, sekitar gunung tengger dan lamongan. Kecamatan yang termasuk kedalam kategori yang ketiga adalah Lumajang, Sumbersuko dan Sukodono. Untuk kategori yang terakhir yaitu Kecamatan Rowokangkung, Jatiroto, Yosowilangun dan sepanjang pantai mulai dari Yosowilangun sampai dengan Tempursari.
Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru (3.676 m), Gunung Bromo (3.292 m) dan Gunung Lamongan. Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m. Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat laut, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Bagian timur laut adalah ujung barat Pegunungan Iyang. Bagian Timur yang mempunyai relief rendah menjadikan Lumajang memiliki banyak wisata Pantai seperti Pantai Bambang, Watu Pecak, Watu Godeg, dan Watu Gedeg.
Sedangkan untuk kawasan selatan daerahnya sangat subur karena mendapat endapan sedimen dari sungai-sungai yang mengalirnya. Ada beberapa sungai yang mengalir di kawasan tersebut yaitu kali glidik, kali rawan,  kali gede, kali regoyo, rejali, besuk sat, kali mujur dan bondoyudo.
Dari potensi geografis yang menguntungkan tersebut, Lumajang mempunyai banyak potensi yang mendukung dalam pengembangan wilayahnya. Maka perlu sekali adanya pengaturan dalam penggunaan lahannya. Dan dikarenakan sebagian besar lahan di Kabupaten Lumajang berkembang disektor pertanian. Oleh karenanya, maka dari itu jurnal ini ditulis bertujuan untuk menganalisis  potensi perkembangan pertanian terhadap kawasan pertanian  berdasarkan rencana penggunaan lahan dikabupaten lumajang.
Konsep Analisis
Salah satu bentuk analisis adalah merangkum sejumlah data besar data yang masih mentah menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan. Kategorisasi atau pemisahan dari komponen-komponen atau bagian-bagian yang relevan dari seperangkat data juga merupakan bentuk analisis untuk membuat data-data tersebut mudah diatur. Semua bentuk analisis berusaha menggambarkan pola-pola secara konsisten dalam data sehingga hasilnya dapat dipelajari dan diterjemahkan dengan cara yang singkat dan penuh arti.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi analisis:
Dalam Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer karangan Peter Salim dan Yenni Salim (2002) menjabarkan pengertian analisis sebagai berikut:
a. Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (perbuatan, karangan dan sebagainya) untuk mendapatkan fakta yang tepat (asal usul, sebab, penyebab sebenarnya, dan sebagainya).
b. Analisis adalah penguraian pokok persoalan atas bagian-bagian, penelaahan bagian-bagian tersebut dan hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat dengan pemahaman secara keseluruhan.
c. Analisis adalah penjabaran (pembentangan) sesuatu hal, dan sebagainya setelah ditelaah secara seksama.
d. Analisis adalah proses pemecahan masalah yang dimulai dengan hipotesis (dugaan, dan sebagainya) sampai terbukti kebenarannya melalui beberapa kepastian (pengamatan, percobaan, dan sebagainya).
e. Analisis adalah proses pemecahan masalah (melalui akal) ke dalam bagian-bagiannya berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang prinsip-prinsip dasarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Suharso dan Ana Retnoningsih (2005), analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab musabab, duduk perkara dan sebagainya). Dan kinerja adalah sesuatu yang dicapai.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional (2005) menjelaskan bahwa analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kinerja adalah kemampuan kerja, sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan.
Menurut Anne Gregory analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan.
            Menurut Dwi Prastowo Darminto dan Rifka Julianty analisis merupakan penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antar bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.
            Menurut Syahrul dan Mohammad Afdi Nizar analisis berarti melakukan evaluasi terhadap kondisi dari pos-pos atau ayat-ayat yang berkaitan dengan akuntansi dan alasan-alasan yang memungkinkan tentang perbedaan yang muncul.
            Menurut Wiradi nalisis adalah aktivitas yang memuat sejumlah kegiatan seperti mengurai, membedakan, memilah sesuatu untuk digolongkan dan dikelompokkan kembali menurut kriteria tertentu kemudian dicari kaitannya dan ditaksir maknanya.
Menurut Komaruddin analisis adalah kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu keseluruhan menjadi komponen sehingga dapat mengenal tanda-tanda komponen, hubungannya satu sama lain dan fungsi masing-masing dalam satu keseluruhan yang terpadu
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian analisis dalam tugas pembuatan jurnal  ini adalah penyelidikan terhadap suatu potensi pertanian dan kawasan pertanian terhadap rencana penggunaan lahan untuk mengetahui perkembangan fungsi pengunaan lahan kedepannya melalui beberapa sumber yang sudah didapat dari instansi-instansi terkait (pemerintah daerah).
Potensi Pengembangan Pertanian
Pengembangan wilayah mempunyai beberapa tujuan, antara lain: 1) sebagai upaya untuk memacu perkembangan sosio-ekonomi; 2) mengurangi kesenjangan atau disparitas wilayah; dan 3) menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Dari ketiga tujuan pengembangan wilayah tersebut, yang dapat dilihat nyata yaitu dalam peranannya menegembangkan potensi yang ada diwilayah kabupaten lumajang.
Program utama pembangunan pertanian Kabupaten Lumajang tahun 2004-2009, yang digariskan dalam rencana strategis Dinas Pertanian Kab. Lumajang adalah sebagai berikut :


A.          Peningkatan Ketahanan Pangan
Ketahanan Pangan Nasional diartikan sebagai kemampuan Negara untuk memenuhi kecukupan pangan seluruh penduduknya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat dan melakukan aktifitas sehari-hari. Kecukupan pangan mencakup kwantitas,kualitas dan aksesibilitas bahan pangan bagi seluruh penduduk. Untuk memenuhi kecukupan pangan, haruslah mempunyai akses terhadap pangan dari produksi sendiri maupun impor. Oleh karena itu upaya peningkatan ketahanan pangan merupakan salah satu program pokok dengan prioritas pencapaian produksi untuk memenuhi kebutuhan nasional sebagai sasaran strategis untuk menghindari pengaruh instabilitas harga pangan dunia.
B.              Pengembangan Agribisnis
Program pengembangan agribisnis pada prinsipnya ditujukan pada pemilihan komoditas yang lebih fleksibel dan dapat lebih bersifat komersial serta bernilai ekonomi yang relatif lebih tinggi.
Program pengembangan Agribisnis yang dimaksud untuk mengoperasionalkan kebijakan pembangunan pertanian berwawasan agribisnis, yang diarahkan agar seluruh subsistem agribisnis dapat secara produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi baik dipasar domestik maupun pasar global.
Komoditas yang ditangani program pengembangan agribisnis meliputi seluruh komoditas komersial pangan dan hortikutura yang sebagaian besar diusahakan oleh pelaku usaha skala menengah dan besar domestik maupun ekspor. Program pengembangan agribisnis ini dapat diisi oleh berbagai unit kerja, baik pemerintah maupun swata yang menekuni bidang kegiatan yang terkait dengan pengembangan agribisnis.
Pengembangan agribisnis diarahkan berkembangannya usaha pertanian dengan orientasi agribisnis yang mampu menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing tinggi, memberikan nilai tambah, menyediakan bahan baku industri pengolahan.
C.          Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
Program peningkatan kesejahteraan petani ini bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan pendapatan petani melalui pemberdayaan, peningkatan akses terhadap sumberdaya usaha pertanian, pengembanagn kelembagaan, dan perlindungan terhadap petani. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah :
      §   Meningkatnya kapasitas dan posisi tawar petani
      §   Semakin kokohnya kelembagan petani
      §   Meningkatnya akses petani terhadap sumberdaya produktif
      §   Meningkatnya pendapatan petani
Program peningkatan kesejahteraan petani terdiri dari beberapa kegiatan utama yaitu :
      §   Penguatan kelembagaan ekonomi pedesaan melalui LM3
      §   Magang, Sekolah Lapang dan Pelatihan, Pendidikan pertanian dan Kewirausahaan Agribisnis
Dari ketiga kelompok sasaran utama pembangunan pertanian tersebut dijabarkan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang selama periode Tahun 2005-2009 adalah meningkatnya produksi dan produktivitas, baik untuk tanaman pangan maupun untuk tanaman hortikultura.
D.          Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Pangan dan Hortikultura
          Upaya untuk mendorong peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura sebagai upaya optimalisasi sumberdaya dilaksanakan dengan meningkatkan produktivitas tanaman melalui peningkatan penggunaan bahan organic dan unsur hara tanah, peningkatan penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat, pengamanan produksi dan penyelematan hasil produksi melalui peningkatan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan serta peningkatan mutu intensifikasi usahatani tanaman pangan dan hortikultura.

Kawasan Pertanian

Berdasarkan panduan kriteria teknis penataan kawasan budidaya yang dikeluarkan oleh Dirjen Penataan Ruang, kawasan peruntukan pertanian merupakan kawasan yang diperuntukan bagi kegiatan pertanian yang meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan pertanian lahan kering, kawasan pertanian tanaman tahunan/perkebunan, perikanan, peternakan.
a)  Fungsi utama
Kawasan peruntukan pertanian memiliki fungsi antara lain:
1) Menghasilkan bahan pangan, palawija, tanaman keras, hasil peternakan dan perikanan;
2) Sebagai daerah resapan air hujan untuk kawasan sekitarnya;
3) Membantu penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

b)  Kriteria umum dan kaidah perencanaan:
1) Pemanfaatan ruang di kawasan peruntukan pertanian harus diperuntukan untuk  sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan tetap memelihara sumber daya tersebut sebagai cadangan pembangunan yang berkelanjutan dan tetap memperhatikan kaidah-kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup;
2) Penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian tanaman harus memanfaatkan potensi tanah yang sesuai untuk peningkatan kegiatan produksi dan wajib memperhatikan aspek kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah kerusakannya;
3) Kawasan pertanian tanaman lahan basah dengan irigasi teknis tidak boleh dialihfungsikan;
4) Kawasan pertanian tanaman lahan kering tidak produktif dapat dialihfungsikan dengan syarat-syarat tertentu yang diatur oleh pemerintah daerah setempat dan atau oleh Departemen Pertanian;
5) Wilayah yang menghasilkan produk perkebunan yang bersifat spesifik lokasi dilindungi kelestariannya dengan indikasi ruang; Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dilindungi kelestariannya dengan indikasi geografis dilarang dialihfungsikan;
6) Upaya pengalihan fungsi lahan dari kawasan pertanian lahan kering tidak produktif (tingkat kesuburan rendah) menjadi peruntukan lain harus dilakukan tanpa mengurangi kesejahteraan masyarakat.
c) Kriteria teknis:
1) Pemanfaatan dan pengelolaan l`han harus dilakukan berdasarkan kesesuaian lahan;
2) Upaya pengalihan fungsi lahan dari kawasan pertanian lahan kering tidak produktif (tingkat kesuburan rendah) menjadi peruntukan lain harus dilakukan secara selektif tanpa mengurangi kesejahteraan masyarakat;
3) Kawasan pertanian lahan basah mencakup:
a) Pola tanam: monokultur, tumpangsari, campuran tumpang gilir;
b) Tindakan konservasi berkaitan dengan:
1) Vegetatif: pola tanam sepanjang tahun, penanaman tanaman panen atas air tersedia dengan jumlah dan mutu yang memadai yaitu 5-20 L/detik/ha untuk mina padi, mutu air bebas polusi, suhu 23-30ºC, oksigen larut 3-7 ppm, amoniak 0.1 ppm dan pH 5-7;
2) Mekanik: pembuatan pematang, teras, dan saluran drainase.
4) Kawasan pertanian lahan kering mencakup:
a) Kemiringan 0-6%: tindakan konservasi secara vegetatif ringan, tanpa tindakan konservasi secara mekanik;
b) Kemiringan 8-15% :
1) Tindakan konservasi secara vegetatif ringan sampai berat yaitu pergiliran tanaman, penanaman menurut kontur, pupuk hijau, pengembalian bahan organik, tanaman penguat keras;
2) Tindakan konservasi secara mekanik (ringan), teras gulud disertai tanaman penguat keras;
3) Tindakan konservasi secara mekanik (berat), teras gulud dengan interval tinggi 0.75-1.5 m dilengkapi tanaman penguat, dan saluran pembuang air ditanami rumput.
c) Kemiringan 15-40%:
1) Tindakan konservasi secara vegetatif (berat), pergiliran tanaman, penanaman menurut kontur, pemberian mulsa sisa tanaman, pupuk kandang, pupuk hijau, sisipan tanaman tahunan atau batu penguat teras dan rokrak;
2) Tindakan konservasi secara mekanik (berat), teras bangku yang dilengkapi tanaman atau batu penguat teras dan rokrak, saluran pembuangan air ditanami rumput.
5) Kawasan pertanian tanaman tahunan mencakup:
a) Kemiringan 0-6%: pola tanam monokultur, tumpang sari, interkultur atau campuran. Tindakan konservasi, vegetatif tanaman penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum. Tanpa tindakan konservasi secara mekanik;
b) Kemiringan 8-15%:
1) Pola tanam, monokultur, tumpang sari, interkultur atau campuran;
2) Tindakan konservasi secara vegetatif, tanaman penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimal;
3) Tindakan konservasi secara mekanik, saluran drainase, rokrak teras bangku, diperkuat dengan tanaman penguat atau rumput.
c) Kemiringan 25-40%:
1) Pola tanam, monokultur, interkultur atau campuran;
2) Tindakan konservasi secara vegetatif, tanaman penutup tanah, penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimal;
3) Tindakan konservasi secara mekanik, saluran drainase, rokrak teras individu.
Lahan yang difungsikan sebagai kawasan budidaya pertanian memiliki kriteria kondisi lahan sebagai berikut :
1.      Ketinggian < 1.000 meter
2.      Kelerengan < 40 %
3.      Kedalaman efektif lapisan tanah atas > 30 cm

Rencana Penggunaan Lahan Kabupaten Lumajang
Fungsi penggunaan lahan terbesar di Kabupaten Lumajang masih didominasi oleh fungsi pertanian dan tegalan, sehingga sebagian besar (>50%) wilayah Kabupaten Lumajang masih merupakan lahan belum terbangun. Lahan-lahan terbangun bersifat teraglomerasi, yaitu lebih terkonsentrasi di sekitar wilayah kota hirarki I yang memiliki nilai strategis lahan lebih tinggi karena merupakan pusat berlangsungnya kegiatan-kegiatan perekonomian seperti di sekitar Kecamatan Lumajang dan Kecamatan Sumbersuko, namun pada saat ini perkembangannya cenderung mulai mengalami perubahan ke arah pembangunan yang bersifat horizontal keluar dari pusat-pusat kota. Hal tersebut mengakibatkan sejumlah lahan produktif (pertanian dan tegalan) mengalami peralihan fungsi.
Peralihan fungsi tersebut sebagian besar mengarah kepada peralihan fungsi permukiman. Berdasarkan arah perkembangan lahan terbangun yang cenderung mulai bersifat horizontal, maka diperlukan suatu perencanaan tepat yang untuk mengendalikan proses konversi fungsi lahan tersebut, sehinggga dapat mempertahankan keberadaan lahan-lahan produktif, mengingat sektor pertanian merupakan sektor unggulan Kabupaten Lumajang, selain itu berdasarkan fungsi kawasan, Kabupaten Lumajang merupakan pusat pertumbuhan wilayah propinsi yang mendukung perkembangan sektor pertanian dan pangan holtikultura.
Berdasarkan hasil kajian kondisi eksisting kawasan lindung di Kabupaten Lumajang dengan rencana pemanfaatan kawasan lindung Kabupaten Lumajang, terdapat beberapa wilayah yang masih belum sesuai dengan rencana pemanfaatan tata ruang. Kawasan lindung yang lebih diarahkan pada wilayah sub satuan wilayah pembangunan (SSWP) Senduro, Klakah, Gucialit dan Pronojiwo, masih belum dapat terealisasi sesuai dangan arahan rencana, karena pada kenyataannya wilayah tersebut termasuk ke dalam wilayah yang mengalami penurunan fungsi hidrologis akibat perambahan hutan dengan intensitas tinggi.

METODE
Dalam jurnal ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode dalam mendeskripsikan status kelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran dan suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Metode deskriptif ini bertujuan membuat deskripsi atau gambaran secara sistematik faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan-hubungan antara fenomena yang diteliti. Dan hasil dari penelitian deskriptif ini adalah difokuskan untuk memberikan gambaran keadan sebenarnya dari objek yang diteleti.
Adapun hasil Berkaitan dengan tulisan ini, maka penulis menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi yang dikeluarkan oleh pemerintah resmi kabupaten Lumajang, antara lain yaitu data Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB), Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lumajang Tahun 2008-2018 (RTRW), Lumajang Dalam Angka 2011, data Dinas Pertanian, dan data-data lain yang merujuk pada masalah terkait.
Selain menggunakan data-data yang dikeluarkan oleh pemerintahan resmi, penulis juga menggunakan sumber data berupa media online dan beberapa buku literatur, serta bacaan dari internet berupa artikel. Adapun sumber-sumber artikel data penulis mengunduhnya dari situs-situs resmi pemerintah dan situs lainnya yang masih dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam perkembangannya sektor pertanian yang merupakan sektor unggulan Kabupaten Lumajang, dan berdasarkan fungsi kawasan Kabupaten Lumajang merupakan pusat pertumbuhan wilayah propinsi yang mendukung perkembangan sektor pertanian dan pangan holtikultura. Pengembangan pertanian juga dapat dilaksanakan melalui pengembangan kegiatan agroindustri sehingga mampu memberi nilai tambah serta meraih pangsa pasar yang lebih besar.
Maka dari itu pemerintah kabupaten lumajang mengembangkan sektor ini secara intensif. Sektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan (padi dan palawija yang terdiri dari tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedele.), tanaman hasil perkebunan (jumbu mente, kelapa, kopi, kapok, kapas, tebu, tembakau dan cengkeh). Dan dari hasil potensi pertanian yang dimiliki oleh kabupaten lumajang didapatkan hasil sebagai berikut:


  A.   Tanam Pangan
 Tananaman padi polowijo banyak diusahakan petani di Kabupaten Lumajang melalui pelaksanaan program-program pemkab maupun yang dilakukan oleh petani secara swadaya. Potensi padi polowijo sangat baik diusahakan di Kabupaten Lumajang dan dapat dilihat dari data produksi tahun 2008 dan 2010 data berjalan mulai bulan Januari sampai dengan juni dan produksi akan berjalan terus karena pola dan tata tanam berjalan cukup teratur disesuaikan kondisi setempat. Dari usaha tani yang ada pada saat ini tanaman yang diperkirakan panen pada bulan Juli untuk komodi tersebut di atas tersebar di beberapa kecamatan yaitu tanaman padi di Kecamatan Randuagung, Pasirian dan Candipuro, tanaman jagung di Kecamatan Klakah, Ranuyoso dan Tempeh, tanaman kedele berada di Kecamatan Guciali, Tekung dan Sumbersuko, kacang tanah yang kualitas produksinya cukup baik banyak dipasok untuk pabrik makanan kacang-kacangan ditanam oleh petani di Kecamatan Ranuyoso, Klakah dan Kunir. Sedangkan ubi jalar banyak diusahakan petani di Kecamatan Pasrujambe, Senduro dan Sumbersuko. Untuk mendukung pasokan bahan pabrik tapioca petani di Kecamatan Candipuro, pronojiwo dan Tempursari mengusahakan tanaman ubi jalar secara terus menerus sepanjang tahun.
Dari kedua perbandingan tabel diatas terlihat bahwa produksi padi dan palawija pada tahun 2010 sudah mulai seimbang.
B.        Tanaman Sayuran
Tanaman sayuran banyak diusahakan oleh petani di Kabupaten Lumajang secara terus menerus mengingat komoditi ini walaupun bukan bahan pangan pokok tapi dapat menunjang kebutuhan gisi yang diperlukan disamping pangan pokok utama (beras). Produksi sayuran ini dipasarkan oleh petani di Kabupaten Lumajang yang selanjutnya untuk komoditi tertentu oleh pengepul dan pedagang dikirim untuk memenuhi kebutuhan pasar di Bali, Malang, dan Surabaya. Untuk bulan Juli diperkiran tanaman ini banyak diproduksi di kecamatan-kecamatan sebagaimana tercantum dalam table yang tersebut di atas. Harga dari sayuran sangat fluktuatif yang banyak dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan pasar. Tanaman ini banyak diusahakan di kecamatan tertentu dengan petani yang tertentu pula, karena tanaman ini memerlukan ketrampilan yang cukup baik dan kepastian pasar yang jelas. Mengingat Kabupaten Lumajang berada pada ketinggian yang tidak banyak dimiliki kabupatennya, masih banyak tanaman sayuran lainnya yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dapat diusahakan di Kabupaten Lumajang melalui kerjasama dengan petani dan kelompoktani.
  C.   Tanaman Buah-Buahan
Tanaman buah-buahan sangat bervariasi sehingga walaupun beberapa tanaman tidak berbuah karena tanaman tersebut belum musimnya berbuah namun karena ragamnya banyak maka masih banyak tanaman lainnya yang berbuah, mengingat antara satu tanaman buah dengan tanaman buah yang lainnya mempunyai musim berbuah yang berbeda, bahkan ada tanaman tertentu yang di daerah lain belum berbuah di Kabupaten Lumajang sedang berbuah dan dapat dipasarkan. Oleh karenanya untuk dapat memberikan informasi terhadap kebutuhan pasar, pada bulan juli 2009 ini tanaman buah yang dapat berproduksi di Kabupaten Lumajang kami sajikan pada table di atas. Khusus untuk tanaman pisang Mas Kirana telah dikelola secara profesinal dan telah disertifikasi serta dipasarkan untuk konsumsi pasar-pasar modern, disamping itu ada jenis pisang Agung Semeru yang mempunyai rasa khas dengan bentuk ukuran yang cukup besar dan panjang hanya dapat tumbuh di Kabupaten Lumajang tepat di punggung Gunung Mahameru. Pisang Agung Semeru tiap pohonnya berbuah paling banyak dalam satu tandannya terdiri dari dua sisir dengan bobot antara 8-12 kg/tandan dan setiap buahnya mempunyai bobot + 0,5 kg.
  D.   Tanaman Biofarmaka
Tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmitik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagian-bagian tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, umbi (rimpang) ataupun akar. Tanaman biofarmaka dibedakan menjadi dua kelompok, yang pertama adalah kelompok biofarmaka rimpang yang terdiri dari; jahe, laos/lengkuas, kencur, kunyit, lempyang, temulawak, temuireng, temukunci, dan dlingo/dringu, sedangkan yang kedua adalah kelompok tanaman biofarmaka non rimpang yang terdiri dari; kapulaga, mengkudu/pace, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto dan lidah buaya. Dari hasil pendataan diperkirakan tanaman biofarmaka yang akan berproduksi ada beberapa jenis dan berada di beberapa kecamatan di Kabupaten Lumajang sebagaimana tercantum dalam table tersebut di atas.
  E.   Tanaman Hias
Petani di Kabupaten Lumajang tidak hanya mengusahakan tanaman yang hanya untuk dimakan, tapi selain itu juga petani banyak mengusahakan tanaman hias yang mempunyai keindahan dan estetika baik karena bentuk tanaman, warna dan keharuman bunga. Tanaman bunga dari Kabupaten Lumajang produksinya banyak dipasarkan ke Bali, Malang, Surabaya, bahkan sampai ke Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jakarta. Adapun produksi bunga untuk bulan Juli berada di beberapa kecamatan sebagaimana tercantum dalam table.
Dan dalam pengaruh terhadap kawasan pertanian berdasarkan rencana penggunaan lahan di Kabupaten Lumajang didapatkan hasil sebagai berikut:
Berdasarkan tingkat kesesuaian lahan terkait topografi kelerengan dan kedalaman efektif tanah dan potensi ekonominya, maka rencana pengembangan kawasan pertanian wilayah Kabupaten Lumajang yang dikembangkan untuk fungsi kawasan budidaya pertanian adalah sebagai berikut:
1.      Pertanian tanaman pangan:
·         Padi : diseluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Gucialit dan Ranuyoso
·         Jagung : di seluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Pronojiwo, Padang, Gucialit dan Ranuyoso
·         Kedelai: Tekung, Yosowilangun, Rowokangkung, Jatiroto, Randuagung dan Sukodono serta Ranuyoso
·         Ubi kayu: selutuh wilayah kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Rowokangkung dan Jatiroto
·         Ubijalar: Pasrujambe, Senduro, Candipuro, Tempeh dan sumbersuko
2.      Pertanian tanaman holtikultura
·         Bawang merah,  bawang putih, Kentang : Senduro
·         Bawang daun dan Wortel: Senduro dan Pasrujambe
·         Kobis: Pronojiwo, Candipuro, Pasrujambe dan Senduro
·         Sawi : Lumajang, Rowokangkung, Pasrujambe dan Gucialit
·         Kacang panajng : seluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Pronojiwo, Yosowilangun, Jatiroto, Senduro, Gucialit, Kedungjajang, Klakah dan Ranuyoso
·         Melon : Sumbersuko, Kunir, Lumajang, Tempeh,dan Pasirian
·         Semangka : Candipuro, Tempeh, dan Sumbersuko
3.      Pertanian tanaman buah-buahan
§   Alpukat : diseluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Pronojiwo, Tekung, Yosowilangun dan Sukodono
§   Belimbing : Kunir, Rowokangkung, Padang dan Lumajang
§   Durian : Randuagung, Padang, Pasrujambe, Senduro, Gucialit, Klakah dan Ranuyoso
§   Mangga, nangka, rambutan dan pisang : di seluruh wilayah Kabupaten Lumajang
§   Salak : diseluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Lumajang, Jatiroto, Gucialit dan Ranuyoso
§   Sawo : diseluruh kecamatan di Kabupaten Lumajang kecuali Kecamatan Tempursari, Jatiroto, Gucialit dan Kedungjajang
Komoditi-komoditi pertanian ini berpeluang dikembangkan untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk turunan sehingga memberi nilai tambah yang cukup tinggi.
Namun perkembangan kegiatan pembangunan kini cenderung mulai mengalami perubahan ke arah pembangunan yang bersifat horizontal, keluar dari pusat-pusat kota mengakibatkan sejumlah lahan produktif (pertanian dan tegalan) mengalami peralihan fungsi yang sebagian besar mengarah kepada peralihan fungsi permukiman sehingga luasan lahan pertanian produktif semakin berkurang. Maka dari itu pentingnya perencanaan penggunaan lahan agar penggunaan lahan yang ada terancang dan dapat dimanfaatkan sebagai mana fungsinya.
Perencanaan merupakan proyeksi masa depan. Segala tindakan untuk tujuan masa depan jelas mempunyai hubungan  erat dengan apa yang dimiliki sekarang. Tidakan tersebut di atas disadari oleh pemik­iran pragmatis rasional untuk suatu kurun waktu tertentu.  Perencanaan mendasari pembangunan, karena pembangunan berarti perencanaan dan pelaksanaan. Pembangunan dapat pula diartikan sebagai usaha merubah nilai suatu keadaan  ke keadaan lain yang mempunyai mutu yang lebih baik.
Oleh karena itu , perlunya suatu perencanaan dalam penggunaan lahan bertujuan untuk membuat suatu perencanaan yang tepat didalam memanfaatkan fungsi lahan yang sesuai dengan fungsinya agar tidak ada lagi peralihan fungsi, seperti halnya peralihan fungsi permukiman dalam pemanfaatan lahan.
Adapun rencana peggunaan lahan di Kabupaten Lulajang yaitu:
Rencana Penggunaan Lahan
RTRW Jawa Timur 2005 - 2020
Kabupaten Lumajang
Kode
Jenis Guna Lahan
Eksisting 2007
Rencana 2008 - 2028
A.
Kawasan Hutan Lindung



A.1
Kawasan Suaka Alam



A.1.1
Cagar Alam
-
-
-
A.1.2
Suaka Margasatwa
-
-
-
A.2
Kawasan Pelestarian Alam



A.2.1
Taman Nasional
19.899,50
25.510,22
23.340,35*
A.2.2
Taman Hutan Raya
-
-
-
A.2.3
Taman Wisata Alam
-
-
-
A.4
Kawasan Perlindungan Bawahan



A.4.1
Hutan Lindung
22.900,00
4.099,90
22.965,2
A.4.2
Kawasan Resapan Air
30.641,93
26.425.58
4.417,57
B
Kawasan Budidaya



B.1
Kawasan Hutan Produksi
13.325,98
691,90
7.136,45
B.2
Kawasan Pertanian



B.2.1
Sawah Irigasi
27.987,82
39.298.25
41.213
B.2.2
Pertanian Lahan Kering/Kebun Campur/Tegalan
13.926,66
51.227,65
58.627
B.3
Kawasan Perikanan



B.3.1
Perikanan Tangkap
-
-
-
B.3.2
Pertambakan
-
50,00
50
B.4
Kawasan Perkebunan



B.4.1
Perkebunan Tanaman Sermusim
-
-
-
B.4.2
Perkebunan Tanaman Tahunan
34.123,25
5.050,80
5.382
B.5
Kawasan Peternakan
-
-
-
B.6
Kawasan Pariwisata
-
-
-
B.7
Kawasan Permukiman
15.300,00
14.474,75
15.275
B.8
Kawasan Perindustrian



B.8.1
Kawasan Industri
774,85
79,42
79,42
-
Rawa / Danau / Waduk
210,00
270,25
270
-
Lain-Lain
-
11.911,28
324

Total Luas Kabupaten
179.079,99
179.090,00
179.090,00
Keterangan : * = data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk wilayah Kabupaten Lumajang Tahun 2007
Dan adapun penggunaan lahan dari data lumajang dalam angka tahun 2011 didapatkan hasil sebagai berukut:

Berdasarkan data rencana penggunaan lahan dan data penggunaan luas lahan sawah didapatkan hasil :
Ø  Pada data rencana penggunaan lahan penggunaan lahan di Kabupaten Lumajang tahun 2008-2028 kawasan pertanian ini lebih diutamakan penggunaan lahannya hal ini dikarenakan kebutuhan bahan-bahan pokok yang semakin meningkat dan suburnya luasan lahan yang dimiliki oleh kabupaten lumajang.
Ø  Dan penggunaan lahan yang dimanfaatkan sebagai daerah pertanian terluas di daerah candipuro disusul dengan daerah pasirian. Dan didalam peta penggunaan lahanpun kawasan pertanian lebih diutamaakan dalam penggunaan lahannya.
Ø  Dari jumlah total luas penggunaan lahan sawah irigasi di kabupaten lumajang tahun 2010 yaitu 35993, hal ini berarti penggunaan 20% dari luas total lahan dikabupaten lumajang. Sedangkan dalam rencana penggunaan lahan dikabupaten lumajang tahun 2008-2028 yaitu 41.213 atau sekitar 23%. Dapat diperkirakan penggunaan lahan sawah irigasi sendiri nantinya akan sesuai dengan rencana penggunaan lahan.
KESIMPULAN
Kabupaten Lumajang merupakan kabupaten yang memiliki tanah yang subur. Dikarenakan Kabupaten Lumajang yang letaknya strategis dan diapit oleh 3 gunung berapi. Untuk itu mengapa dalam penggunaan lahannya kawasan pertanianlah yang mendominasi dikawasan ini. Banyak potensi perkembangan pertanian yang dimiliki oleh kabupaten Lumajang. Adapun komoditi yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang antara lain komoditi tanaman bahan makanan (padi dan palawija yang terdiri dari tanaman jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedele.), tanaman hasil perkebunan (jumbu mente, kelapa, kopi, kapok, kapas, tebu, tembakau dan cengkeh).
Maka dari itu diperlukannya perencanaan penggunaan lahan dalam RTRW Kabupaten Lumajang ini sebagai upaya agar penggunaan lahan khususnya kawasan pertanian sudah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.  Dan data-data penggunaan lahan yang terdapat di lumajang dalam angka 2011 sebagai tolak ukurnya apakah lahan yang sudah sesuai dengan tujuan. Dan dari hasil analisis pada bab pembahasan, banyak sekali potensi pertanian yang dimiliki oleh kabupaten lumajang. Kemudian dari kawasan pertanian sendiri sudah mendominasi dalam penggunaan lahan di Kabupeten Lumajang. Hal ini sudah sesuai dengan yang diharapkan pemkab, hanya saja ditakutkan jika arah pengembangan wilayah selanjutnya berarah kepenggunaan lahan bangunan mengingat jumlah penduduk yang semakin meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
PEMDA. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lumajang Tahun 2008-2028. 2008. Pemkab Lumajang : Lumajang.
BAPPEDA. 2011. Pendapatan Domestik Regional Bruto 2010. Institut Teknologi Sepuluh November.
BPS Kabupaten Lumajang. 2012. Lumajang Dalam Angka 2012. Pemkab Lumajang: Lumajang.
Danfar. 2009. Pengertian/Definisi Efektifitas, (Online), (http://dansite.wordpress.com/2009/03/28/pengertian-efektifitas/), diakses 23 Mei 2011.
Dinas Pertanian Lumajang. 2010. SRG Plus, (Online), (http://www.jombangkab.go.id/e-gov/home.asp), diakses 1 Mei 2011.
Kumpulan Jurnal: Universitas Sumatra Utara.
Nugroho, Iwan. 2007. Agropolitan: Suatu Kerangka Berpikir Baru dalam Strategi Pembangunan Nasional. Universitas Widyagama Malang: Malang.
Putra, Indi. 2009. Agropolitan dan Agribisnis dalam Pembangunan Ekonomi Daerah, (Online), (http://kumpulanilmuekonomi.blogspot.com/2010/06/makalah-ekonomi-agribisnis.html), diakses 29 April 2011.
Yayasan Inovasi Pemda. 2010. Kabupaten Jombang, Peraih Grand Category Bidang Pembangunan Ekonomi, (Online), (http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=150853), diakses 29 April 2011.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar