Minggu, 20 Mei 2012

Iklim Sebagai Faktor Pembentuk Tanah



BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Secara menyeluruh diantara kelima faktor iklim merupakan yang paling berpengaruh. Iklim merupakan faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan tanah. Setiap tempat pada waktu tertentu memiliki temperatur suhu udara, tekanan udara, kelembaban, keadaan awan, dan presipitasi yang relatif berbeda. Keadaan yang berubah-ubah dari unsur-unsur meteorologi dan atmosfir tersebut dikenal dengan cuaca. Pada suatu tempat yang sama keadaan cuaca dapat berubah hanya dalam tempo beberapa jam saja. Akan tetapi, ada suatu keadaan di mana suhu, presipitasi, kelembaban, dan hal-hal yang terkait dengan cuaca hanya dapat berubah dalam jangka panjang. Artinya, perubahan tersebut tidak serta-merta terjadi dalam waktu beberapa jam saja, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat berubah. Keaadan itu disebut dengan iklim (Lange, 1991).
Sebagaimana fenomena di alam ini, iklim berubah secara bertahap. Faktor utama yang menyebabkan perubahan iklim adalah letak geografis suatu wilayah, keadaan vegetasi, dan aktivitas manusia (Lange, 1991).
Peningkatan temperatur udara di permukaan bumi antara 2 - 5◦ Celcius dalam kurun waktu 100 tahun dengan kondisi emisi gas rumah kaca seperti saat ini akan mengakibatkan perubahan iklim sebagaimana kajian Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dalam sidang Second World Climate Programme (SWCP) Oktober 1990 di Genewa (Wibowo, 1996).
Dengan adanya perubahan temperatur suhu udara, tekanan udara, kelembaban, keadaan awan, dan presipitasi akan mempengaruhi terbentuknya tanah yang ada di permukaan bumi. Unsur iklim tersebut merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan tanah. Komponen iklim yang paling berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah suhu dan presipitasi (curah hujan).

2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini antara lain:
1.      Apa yang dimaksud dengan tanah?
2.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pembentukan tanah?
3.      Apa yang dimaksud dengan iklim?
4.      Apa pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah?
5.      Unsur-unsur iklim apa yang mempengaruhi pembentukan tanah?
a.       Apa pengaruh suhu terhadap pembentukan tanah?
b.      Apa pengaruh curah hujan terhadap pembentukan tanah?
c.       Apa pengaruh angin terhadap pembentukan tanah? 
6.      Bagaimana jenis tanah berdasarkan iklim yang mempengaruhinya?
7.      Apa dampak perubahan iklim pada pembentukan tanah?
 3.      Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini antara lain:
  1. Untuk mengetahui pengertian tanah.
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempegaruhi pembentukan tanah.
  3. Untuk mengetahui pengertian dari iklim.
  4. Untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah.
  5. Untuk mengetahui unsur-unsur iklim apa yang mempengaruhi pembentukan tanah.
  6. Untuk mengetahui jenis tanah berdasarkan iklim yang mempengaruhinya.
  7. Untuk mengetahui dampak perubahan iklim pada pembentukan tanah.
BAB 2
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Tanah
Definisi tanah menurut para ahli, antara lain:
a)      Dokuchaiev (Rusia,1877), pengertian tanah harus dihubungkan dengan iklim dan dapat digambarkan sebagai zone-zone geografi yang luas yang dalam skala peta dunia tidak hanya dihubungkan dengan iklim tetapi juga dengan lingkungan tumbuhan.
b)       E. Saifuddin Sarief,1986, tanah adalah benda alami yang terdapat di permukaan bumi yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan batuan dan bahan organik sebagai hasil pelapukan sisa tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor alami, iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukan.
c)      H. Isa Darmawijaya, tanah merupakan akumulasi alam bebas menduduki sebagian planet bumi yang mampu menumbuhkan tumbuhan, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak bahan induknya dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu.
Jadi pengertian tanah adalah lapisan terluar dari kontinen yang relatif tak padu sebagai akibat pelapukan batuan induk dibawah kondisi iklim dan topografi tertentu yang mempunyai sifat dan ciri tertentu serta merupakan akibat kehidupan flora dan fauna yang persebarannya mengikuti zone-zone geografi.    
Adapun komponen utama tanah antara lain: Bahan Organik (5%), Udara (25%), bahan mineral (45%), dan air (25%).

2.      Faktor-faktor Pembentuk Tanah
            Syarat utama terbentuknya tanah ada 2 yaitu: (1) Tersedianya bahan asal atau batuan induk, (2) adanya faktor-faktor yang mempengaruhi bahan asal tersebut. Dalam faktor pembentukan tanah dibedakan menjadi dua golongan yaitu, faktor pembentukan tanah secara pasif dan aktif. Faktor pembentukan tanah secara pasif adalah bagian-bagian yang menjadi sumber massa dan keadaan yang mempengaruhi massa yang meliputi bahan induk, tofografi dan waktu atau umur. Sedangkan faktor pembentukan tanah secara aktif ialah faktor yang menghasilkan energi yang bekerja pada massa tanah, yaitu iklim, (hidrofer dan atmosfer) dan makhkluk hidup (biosfer). Adapun pembentukan tanah di pengaruhi oleh lima faktor yang bekerjasama dalam berbagai proses, baik reaksi fisik (disintregrasi) maupun kimia (dekomposisi). Ada lima faktor pembentuk tanah yaitu: bahan induk, iklim, organisme, topografi, dan waktu. Dengan demikian tanah dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi dari kelima faktor, yaitu:

                                                Tanah (s) = f (i,0,b,t,w)

Dimana I = iklim, 0 = organism, b = bahan induk, t = topografi, w = waktu  

3.      Pengertian Iklim
       Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang, minimal permusim atau perperiode atau pertahun, dst, sedangkan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek, misalnya harian, mingguan, bulanan dan maksimal semusim atau seperiode.
Climosequence : pembentukan tanah yang hanya dipengaruhi oleh faktor iklim, sedang faktor yang lain konstan. Istilah yang sama untuk Biosequences, toposequences, lithosequences, dan chronosequences.
       Semua energi di alam raya termasuk yang digunakan dalam proses genesis dan diferensiasi tanah bersumber dari energi panas matahari. Jumlah energi yang sampai ke permukaan bumi tergantung pada kondisi bumi atau cuaca, makin baik (cerah) cuaca makin banyak energi yang sampai ke bumi, sebaliknya jika cuaca buruk (berawan), cuacalah yang bertanggung jawab dalam mengubah energi matahari menjadi energi mekanik atau panas.
Apabila energi mekanik menimbulkan gerakan udara atau angin yang memicu proses penguapan air melalui mekanisme transpirasi tanaman dan evaporasi permukaan non tanaman (gabungannya disebut evapotranspirasi), maka energi panas ditransformasi oleh tetanaman menjadi energi kimiawi melalui mekanisme fotosintesis, yang kemudi`n digunakan oleh semua makhluk hidup untuk aktifitasnya melalui mekanisme dekomposisi (humifikasi dan mineralisasi) bahan organik, termauk pencernaan usus manusia dan hewan.

4.      Pengaruh Iklim terhadap Pembentukan Tanah
   Menurut Hardjowigeno (2003) hanya ada lima faktor utama yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. Salah satu dari kelima faktor itu adalah iklim. Iklim merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan tanah. Komponen iklim yang paling berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah suhu dan presipitasi (curah hujan). Tanah berasal dari bahan-bahan induk, baik yang organik maupun mindral, yang terbentuk melalui berbagai macam proses. Bahan-bahan induk yang membentuk tanah adalah batuan-batuan yang ada di muka bumi yang mengalami pelapukan. Terkait dengan suhu dan pelapukan, suhu udaralah yang menyebabkan terjadinya pelapukan pada batuan sehingga terbentuk tanah. Proses pelapukan batuan oleh suhu ini dinamakan pelapukan mekanis atau fisik. Batu akan memuai jika terkena suhu tinggi dan menyusut ketika suhu rendah. Pemuaian batuan tersebut sebenarnya tidak begitu berarti, tetapi akan memberikan dampak nyata jika terjadi secara konstan dan berkali-kali (Sutedjo, 2005).
Setelah mengalami pelapukan secara fisik, batuan yang telah hancur akan mengalami pelapukan secara kimiawi. Pelapukan kimia menyebabkan mineral terlarut dan mengubah sturkturnya sehingga mudah terfragmentasi. Di sinilah presipitasi memainkan perannya. Dengan adanya air hujan, maka proses pencucian tanah berlangsung cepat sehingga pH tanah tidak terlalu basa. Karena tanah yang bersifat masam pada umumnya adalah tanah yang banyak mengandung humus (Sutedjo, 2005). Selain menentukan kecepatan pelapukan iklim juga berpengaruh terhadap tumbuhan dan jenis organisme yang hidup.
Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada tanah meliputi:
1.      Solution yaitu terlarutnya bahan padat menjadi ion yang dikellilingi oleh molekul cairan.
Contoh :
NaCl + H2O  Na+, Cl-,® H2O
(Garam mudah larut) air (ion terlarut dikelilingi air)
2.  Hidrolisis ; reaksi suatu substansi dengan air yang membentuk hidroksida dan substansi baru lain yang lebih mudah larut daripada substansi asalnya. Hidrolisis merupakan salah satu reaksi pelapukan yang terpenting yang menyebabkan perubahan profil tanah.
Contoh :
KAlSi3O8 + HOH ® HAlSi3O8 + KOH
(ortoclase, sangat (clay silikat) (sangat mudah terlarut)
lambat keterlarutannya)
3.  Karbonasi : reaksi suatu senyawa dengan asam karbonat di mana asam karbonat merupakan asam lemah yang diproduksi dari gas CO2 yang terlarut dalam air.
Contoh :
CO2 + H2O ® H2CO3  H+® + HCO3-
CaCO3 + H+ + HCO3- ® Ca (HCO3)2
(kalsit,sedikit larut) mudah larut
Hidrolisis dan karbonasi merupakan proses pelapukan kimia yang paling efektif dalam proses pembentukan tanah.
4.  Reduksi : proses kimia dimana muatan negatif naik, sedangkan muatan positif menurun. Misalnya CaSO4 (keras) yang dilarutkan dalam air hingga membentuk CaSO4.2H2O (lebih lunak).
5.  Oksidasi : kehilangan elektron atau penggabungan suatu senyawa dengan oksigen. Mineral yang teroksidasi meningkat volumenya karena penambahan oksigen dan umumnya lebih lunak.
6.  Hidrasi : kombinasi kemikalia padat, seperti mineral atau garam, dengan air. Hidrasi menyebabkan perubahan struktur mineral dengan cara meningkatkan volumenya sehingga mineral menjadi lebih lunak dan mudah terdekomposisi.
   Thornwaite (1931) mengemukakan korelasi antara faktor-faktor iklim dengan jenis tanah pada dua nilai index ialah: Precipitation effectiveness (daya hasil tepat presipitasi) disingkat P-E index dan Temperature Efficiency (daya hasil guna temperatur) disingkat T-E index. Rumus masing-masing adalah:

 

P-E index = ∑12 11,5      P
                                    (t-10)        dimana P = presipitasi bulanan (dlm inch)
T-E index = ∑12 (t-32)                               t  = temperature bulanan (dalam
                              4                                        Fahrenheit)
Tabel Sistem klimatik tanah menurut Thornwaite
(Dingin)
Salju (snow, ice)








(Panas)
Tanah kerangka (Skeletal soils)
Muskeg (Spagnum moss, small pruce treas)
Desert Soils
Arid brown dan chestnut soils
Chernozem
Frairie Soils (Brunizem)
Podzols
Gray-brown podzolic soils
Red and yellow podzolic soils
Latosols
             Kering                                                                                           Basah

Sedangkan menurut Marbut (1935) pengaruh iklim terhadap pembentukan tanah meliputi hal-hal sebai berikut:
1.      Di daerah tropik-humid, pelapukan kimia berjalan sangat cepat, pelapukan fisik biasa,
2.      Di daerah Taiga dan frost yang humid dan sub humid: pelapukan kimia relatif lambat, pelapukan fisika cepat,
3.      Di daerah Arid: pelapukan kimia sangat lambat, pelapukan fisik sangat cepat,
4.      Di daerah tropic humid mesothermal terbentuk lempung yang mengandung Al dan Fe berkadar Si yang rendah,
5.      Di daerah humid microthermal terbentuk lempung yang berkadar Si sedang sampai tinggi. 
   Pada umumnya makin mendekati khatulistiwa warna merah atau warna kuning tanah makin kelam (tua) makin ke kutub warnanya makin cerah (muda). Di daerah Tropis terbbentuk  jenis tanah yang laterit, ion-2 ca-na-k dan mg akan larut dari soil dan meninggalkan oxida fe dan al dalam soil sehingga menimbulkan warna merah. Perkecualian ditemui pada tanah-tanah podzol berpasir di daerah yang iklimnya humid microthermal. Tanah-tanah berwarna kelabu berkembang dari bahan-bahan induk yang berkapur di daerah yang beriklim subhumid dan semiarid.
  
5.      Unsur-unsur iklim yang Mempengaruhi Pembentukan Tanah
a.      Pengaruh Curah Hujan Terhadap Pembentukan Tanah
Curah hujan ini merupakan besarnya kapasitas hujan yang turun ke permukaan yang berwujud air. Curah hujan akan berpengaruh terhadap keku`tan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah). Pada umumnya makin banyak curah hujan maka keasaman tanah makin tinggi atau pH tanah makin rendah, karena banyak unsur-unsur logam alkali tanah yang terlindi misalnya, Na, Ca, Mg, dan K, dan sebaliknya makin rendah curah hujan maka makin rendah tingkat keasaman tanah dan makin tinggi pH tanah. Makin lembab suatu tanah maka makin jelek aerasinya dan juga sebaliknya, hal ini desebabkan karena adanya pergantian antara air dan udara dalam tanah.
Adapun   hubungan curah hujan  dengan pelapukan, jika hujan lebih besar dari penguapan maka yang terjadi adalah penghancuran yang  terus menerus  dan  memakan waktu yang cukup lama untuk  mengalami proses pelapukan tersebut. Sebaliknya jika penguapan lebih besar dari pada hujan maka terjadilah pencucian, pengkristalan garam, pengeringan tanah tidak memakan waktu yang lama. Oleh sebab itu hubungan antara curah hujan dan penguapan itu dalam kenyataannya memang dapat menghasilkan macam –macam tanah, bentuk mineral, akumulasi garam. Sebagai contoh bahwa tanah alkali dan danau-danau yang mengandung garam itu terjadi apabila penguapan lebih besar dari pada curah hujan.
Adapun pengaruh curah hujan itu sendiri terhadap sifat tanah tampak jelas sekali pada analisa yang dilakukan oleh Jenny di USA pada tahun 1941 seperti di bawah ini:
1.      Pelindian unsur-unsur K dan Na yang oleh Jenny digambarkan dalam tabel 
dibawah ini dengan menggunakan istilah Leaching value

Daerah
Jenis Tanah
Jumlah Profil
 Leaching Value
Semi arid to semi humid

Semi humid, north Dakota
Humid
Chestnut dan chernozemlike soils
Chernozemlike soil
Podzolized soil
15 


29

12
0,981 ± 0,059


0,901±0,028

0,719±0,053

Leaching value = horizon terlindih
                         Horizon bahan induk
 = K2O + Na2O + CaO
                        Al 2O3
= K2O + Na2O + CaO
Al 2O3






2.      Pelindihan CaCO3 (kapur) dalam profil tanah

→7° CaCO3
                       
Desert soil
             Chernozem soil
Pengaruh iklim terhadap pencucian CaCo3
 
                 
                  Chestnut soil


3.      Pelindihan C dan N dalam tanah
Pengaruh curah hujan terhadap kadar C dalam tanah
 
2,0
 
             % C                       75°F
1,0
 
hutan
            pertanian

                                40”         80”         120” P

0,20
 
%   N                                                          N= 0,00655                                                                                                                                        
0,10

 
                            P= 0,023
       Rumus umum yang dijabarkan dari                                                                                                                                                                  kumpulan analisa di USA
                          20”               40”         60” P
Grafik umum pengaruh curah hujan terhadap  kadar N dalam tanah
Hubungan faktor pelapukan Ramann dengan zone iklim dalam mempengaruhi jenis tanah
Daerah
Rata-rata Suhu ºC
Dissosiasi relatif H2O
Jumlah hari pelapukan
Faktor Pelapukan
Sub Arctic
10
1,7
100
170
Temperate
18
2,4
200
430
Tropical
34
4,5
360
1620

b.      Pengaruh Temperatur Terhadap Pembentukan Tanah
Temperatur mempengaruhi pembentukan tanah menurut dua cara, ialah
1)      Memperbesar evapo-transpirasi sehingga mempengaruhi pula gerakan air dalam tanah, dan
2)      Mempercepat reaksi kimia dalam tanah.
Cara mempercepat reaksi kimia dinyatakan dengan:
(a)    Dalil Van’t Hoff ialah bahwa kenaikan temperature tiap 10ºC mempercepat reaksi kimia 2-3 kali lipat;
(b)   Faktor pelapukan Ramann: berdasarkan pendapat bahwa disosiasi
H2O            H+ + OH-  sangat tergantung pada temperatur.

            Temperatur juga dapat mempengaruhi pelapukan fisik atau desintegrasi yaitu penghancuran batuan secara fisik tanpa merubah susunan kimianya. Pengaruh temperatur yang menentukan adalah tinggi temperatur mutlak dan frekuensi temperatur.
            Emerson (1920) menyatakan bahwa batuan yang bertekstur kasar lebih mudah mengalami desintegrasi daripada yang bertekstur halus. Sedang mineral-mineral yang berwarna kelam lebih banyak menyerap panas daripada yang berwarna cerah. Karena batuan tersusun atas berbagai mineral yang mempunyai koefisien expansi dan kontraksi yang berlainan, maka fluktuasi temperatur menyebabkan pecahnya batuan menjadi butiran-butiran tunggal.
            Polynov (1937) menyatakan bahwa penyebab desintegrasi batuan padat yang langsung adalah goyangan (fluktuasi) temperatur. Siang hari permukaan batuan yang langsung terkena radiasi matahari, akan memuai karena pemanasan. Sedangkan di malam hari yang dingin akan cepat mengkerut. Insolasi bekerjasama dengan kelembaban udara dan kelembaban tanah, sehingga di daerah gurun yang jarang atau bahkan tidak ditumbuhi vegetasi. Hal tersebut mengakibatkan proses desintegrasi lebih hebat daripada di daerah basah yang batuannya banyak tertutup vegetasi seperti di daerah tropis.
            Desintegrasi batuan juga tergantung pada daya hantar (conductivity) panas batuan. Menurut Less, berdasarkan penelitian memperlihatkan bahwa daya hantar panas berbeda tak hanya perbedaan jenis batuan, tetapi juga perbedaan tempat kedudukan batuan.  
            Tabel Daya Hantar Panas Beberapa Batuan (dengan dasar daya hantar  perak=1)
Kuarsa                                    0,015
Basalt                                   0,00673
Granit                     0,00757-0,0975
Batu Pasir              0,00304-0,00184
Pualam                 0,00578-0,00817
Gneis                     0,00578-0,00817

Syenit                                   0,00442
           
            Batuan yang mempunyai daya hantar panas lemah menyebabkan perbedaan temperatur di antara lapisan permukaannya dan lapisan sedikit lebih dalam, sehingga batuan terkelupas kulitnya. Prosesnya dinamakan exfoliasi.
          Perubahan temperatur yang tinggi menyebabkan batuan pecah menjadi gumpalan-gumpalan batuan tajam. Pecahnya batuan seperti ini biasanya terjadi di malam hari di daerah gurun. Di malam hari daerah gurun menjadi sangat dingin setelah pada siang hari temperatur mencapai 110o-113oF (Joffe, 1949).
Perbedaan temperatur merupakan cerminan energi panas matahari yang sampai ke suatu wilayah, sehingga berfungsi sebagai pemicu :
(1)   Proses fisik dalam pembentukan liat dari mineral-mineral bahan induk tanah, dengan mekanisme identik proses pelapukan bebatuan.
(2)   Keanekaragaman hayati yang aktif karena masing-masing kelompok terutama mikrobia mempunyai temperatur optimum spesifik, sehingga perbedaan temperatur akan menghasilkan jenis dan populasi mikrobia yang berbeda pula. Umumnya makin rendah atau makin tinggi temperatur dari titik optimalnya akan diikuti oleh jenis dan populasi mikrobia yang semakin sedikit
(3)   Kesempurnaan dekomposisi biomass tanah hingga kemineralisasinya
    
c.       Pengaruh Angin Terhadap Pembentukan Tanah
Angin berpengaruh terhadap proses desintegrasi atau pelapukan fisik. Pengaruh angin serupa dengan aliran air. Akibat langsung dari gerakan angin terhadap pembentukan tanah yaitu berupa erosi angin dan secara tidak langsung berupa pemindahan panas.
Aliran angin selain disebabkan bentuk permukaan bumi juga disebabkan oleh perbedaan temperatur tempat-tempat tertentu. Angin dengan kecepatan besar mampu mengangkut batuan dan selanjutnya bahan yang diangkutnnya sanggup pula mengikis dan memecahkan batuan. Karena secara tak langsung proses desintegrasi ini merupakan akibat perbedaan temperatur, maka proses ini banyak terjadi di daerah kering seperti di gurun pasir.
d.      Pelapukan
Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia atau biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah (soil). Di alam pada umumnya ke tiga jenis pelapukan (fisik, kimiawi dan biologis) itu bekerja bersama-sama, namun salah satu di antaranya mungkin lebih dominan dibandingkan dengan lainnya. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang pelapukan fisik saja karena pelapukan fisik sebagian besar dipengaruhi oleh iklim
Pelapukan fisik adalah proses dimana batuan pecah menjadi kepingan yang lebih kecil, tetapi tanpa mengalami perubahan komposisi kimia dan mineral yang berarti. Pelapukan fisik ini dapat menghasilkan fragment/kristal kecil sampai blok kekar (joint block) yang berukuran besar.
·         Jenis pelapukan fisik antara lain:
a.       Stress release: batuan yang muncul ke permukaan bumi melepaskan stress menghasilkan kekar atau retakan yang sejajar permukaan topografi
b.       Frost action and hydro-fracturing: pembekuan air dalam batuan. Proses ini tergantung:
1.keberadaan pori dan retakan dalam batuan
2.keberadaan air/cairan dalam pori
3.temperatur yang turun naik dalam jangka waktu tertentu.
c.  Salt weathering: pertumbuhan kristal pada batuan.
d. Insolation weathering: akibat pemanasan dan pendinginan permukaan karena pengaruh matahari
e.  Alternate wetting and drying: pengaruh penyerapan dan pengeringan dengan cepat.
·         Penghancuran batuan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
a.       Akibat pemuaian
Batuan ternyata tidak homogen, terdiri dari berbagai mineral, dan mempunyai koefisien pemuaian yang berlainan. Oleh karena itu dalam sebuah batu pemuaiannya akan berbeda, bisa cepat atau lambat. Pemanasan matahari akan terjadi peretakan batuan sebagai akibat perbedaan kecepatan dan koefisien pemuaian tersebut.
b.      Akibat pembekuan air
Batuan bisa pecah/hancur akibat pembekuan air yang terdapat di dalam batuan. Misalnya di daerah sedang atau daerah batas salju, pada musim panas, air bisa masuk ke pori-pori batuan. Pada musim dingin atau malam hari air di pori-pori batuan itu menjadi es. Karena menjadi es, volume menjadi besar, akibatnya batuan menjadi pecah.
c.       Akibat perubahan suhu tiba-tiba
Kondisi ini biasanya terjadi di daerah gurun. Ketika ada hujan di siang hari menyebabkan suhu batuan mengalami penurunan dengan tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan hancurnya batuan.
d.      Perbedaan suhu yang besar antara siang dan malam
Penghancuran batuan terjadi akibat perbedaan suhu yang sangat besar antara siang dan malam. Pada siang hari suhu sangat panas sehingga batuan mengembang. Sedangkan pada malam hari temperatur turun sangat rendah (dingin). Penurunan temperatur yang sangat cepat itu menyebabkan batuan menjadi retak-retak dan akhirnya pecah, dan akhirnya hancur berkeping-keping. Pelapukan seperti ini Anda bisa perhatikan di daerah gurun. Di daerah Timur Tengah (Arab) temperatur siang hari bisa mencapai 60 derajat Celcius, sedangkan pada malam hari turun drastis dan bisa mencapai 2 derajat Celcius. Atau pada saat turun hujan, terjadi penurunan suhu, yang menyebabkan batuan menjadi pecah.

6.      Jenis Tanah Berdasarkan Iklim yang Mempengaruhi
     Mohr (1922) menyusun suatu klasifikasi tanah untuk Pulau Jawa dan Sumatera didasarkan pada sifat genese tanah berupa temperatur dan kelembaban udara. Dalam susunan ini Mohr membedakan atas:
1)      Tanah lixivium bagi tanah-tanah bertemperatur tinggi dan curah hujan melebihi evaporasi, terutama yang berwarna kuning dan coklat.
2)      Tanah merah atau lixivium merah bagi tanah-tanah di temperatur tinggi dengan musim hujan berseling musim kemarau (intermitterend)
3)      Tanah pucat (bleekaarden) dengan temperatur rendah dan curah hujan melebihi evaporasi.
4)      Tanah hitam (zwartaarden) dengan temperatur tinggi dan hujan berseling musim kemarau.
5)      Tanah kristal garam temperatur tinggi, evaporasi melebihi curah hujan.
6)      Tanah kelabu muda temperatur tinggi dan tanah selalu tergenang air.
7)      Tanah hitam alkali temperatur tinggi, musim hujan dan musim kemarau seimbang.
Vilenskii (1925) memilah tanah menjadi empat golongan berdasarkan faktor-faktor yang terutama menguasai pembentukannya.
1)     Tanah Thermogenik
Tanah ini terbentuk dan berkembang dalam iklim subtropis dengan faktor pembentuk tanah, terutama temperatur tinggi menyebabkan dekomposisi yang cepat terhadap mineral silikat dan mineralisasi yang cepat terhadap bahan organik dengan menghasilkan CO2, sehingga terbentuk tanah geluh berwarna merah kuning, serta tanah laterit yang kurang mengandung bahan organik.
2)     Tanah Lithogenik
Tanah ini terutama terbentuk dan berkembang dalam iklim sedang lembab dengan faktor utama vegetasi, sehingga mendorong tertimbunnya bahan organik dan pelapukan mineral silikat yang intensif, dengan membentuk tanah-tanah chernozem, chestnut, chernozem yang mengalami degradasi dan podzol.
3)     Tanah Hidrogenik
Tanah ini terutama terbentuk dan berkembang dalam iklim dingin seperti daerah tundra hutan, sehingga genese tanah berlangsung dalam keadaan jenuh air, berakibat terbentuknya gambut humus. Sedangkan dalam horison subhidrat (selalu di bawah air) terdapat senyawa-senyawa ferro seperti pirit, markasit dan sinderit atau FeCO3. Tanah-tanah yang terbentuk adalah tanah tundra, podzol bergambut dan wiesenboden.
4)     Tanah Halogenik
Tanah yang berkembang dengan adanya garam natrium, meliputi macam-macam tanah solonchak, solonetz dan soloth.
Pada tahun 1927 Valenskii kembali mengklasifikasikan tanah seperti pada tabel berikut.
Daerah
Kering (arid)
Agak kering (semi arid)
Sedang (temperated)
Agak basah (subhumid)
Basah (humid)
Kutub
Tundra
Tanah setengah gambut
Tanah gambut dan rumput
     -
Tanah gambut dan rumput
Dingin
Tanah gambut kering
        -
Tanah rumput hitam
Tanah rumput degradasi
Tanah podzol
Sedang
Tanah kelabu
Tanah chestnut
Tanah chernozem
Tanah hutan kelabu
Tanah podzol
Subtropik
      -
Tanah kuning steppe kering
Tanah kuning
Tanah kuning degradasi
Tanah kuning terpodzolisasi
Tropik
Tanah merah setengah gurun
Tanah merah
Tanah laterit
Tanah merah degradasi
Tanah merah terpodzolisasi

·         Contoh persebaran jenis tanah berdasarkan iklim
1.    Tanah Latosol
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
2.    Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.
3.    Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
4.    Tanah Podsol
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah
5.    Tanah Andosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.
6.    Tanah Mediteran Merah Kuning
Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.
7.      Dampak Perubahan Iklim Pada Pembentukan Tanah
     Iklim di wilayah satu berbeda dengan iklim di wilayah lainnya, karena itulah proses pembentukan tanah yang terjadi berbeda-beda pula. Dampak nyatanya adalah adanya perbedaan jenis tanah antar wilayah. Indonesia yang pada dasarnya beriklim tropis di mana musim panas dan musim hujan datang setiap enam bulan sekali memiliki tanah yang lebih subur daripada tanah di negara-negara Eropa ataupun negara-negara Afrika. Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa waktu juga menjadi salah satu faktor pembentukan tanah. Dan selama waktu berjalan manusia akan terus melakukan berbagai aktivitas di mana sebagian besar aktivitas tersebut seringkali berdampak pada alam; misalnya overexploitation sumber daya alam, membuang sampah sembarangan dan reklamasi pantai.
     Telah dikemukakan sebelumnya bahwa iklim dapat berubah, salah satunya karena aktivitas manusia. Karena itulah semakin tidak terkontrol perlakuan manusia terhadap alam, semakin cepat terjadinya perubahan iklim. Akibat perubahan iklim, lapisan salju melebur dan tanah akan lebih banyak menyerap panas matahari. Umpan balik dari peleburan lapisan salju tersebut akan meningkatkan pemanasan global (global warming). Kenaikkan temperatur akan mempengaruhi pasokan air yang berasal dari pencairan salju. Pada musim dingin air disimpan dalam bentuk salju dan secara bertahap dilepaskan pada saat meleleh pada musim semi dan musim panas. Pada bagian bumi yang lebih panas, curah hujan meningkat pesat. Sungai-sungai di daerah ini menjadi sangat kering saat musim panas dan meluap pada waktu musim hujan (Wibowo, 1996).
     Komposisi ekosistem alami dapat rusak akibat perubahan iklim ketika dampak perubahan iklim tersebut tidak dapat ditolerir oleh komponen pendukung ekosistem. Karena tanah merupakan salah satu komponen ekosistem alami (komponen abiotik) maka perubahan iklim akan merubah sifat-sifat tanah. Dengan begitu tanah di Indonesia yang pada umumnya bersifat subur bisa saja berubah menjadi tandus akibat perubahan iklim yang tengah terjadi saat ini.


BAB 3
PENUTUP
1.      Kesimpulan

     Secara menyeluruh diantara kelima faktor pembentuk tanah iklim merupakan yang paling berpengaruh. Iklim merupakan faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan tanah. Terdapat dua unsur iklim terpenting yang mempengaruhi pembentukan tanah yaitu curah hujan dan suhu, yang berpengaruh besar pada kecepatan proses kimia dan fisika yaitu proses yang mempengaruhi perkembangan profil (bentukan tanah).

DAFTAR PUSTAKA

Hari Utomo, Dwiyono,MPd.,MSi.2010.Bahan Ajar Geografi Tanah.Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang: Malang.

P.Buringh.1979.Pengantar Pengajian Tanah-tanah Wilayah Tropika Dan Subtropika.Gajah Mada University Press:Yogyakarta.

Darmawijaya,m.Isa.1990.Klasifikasi Tanah.Gajah Mada University Press:Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar